Inter Dominan, Como Bikin Sensasi! Drama Serie A 2025–26 Memanas hingga Pekan Terakhir

Ilustrasi, Inter Dominan, Como Bikin Sensasi! Drama Serie A 2025–26 Memanas hingga Pekan Terakhir. (foto:ferry/gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Serie A musim 2025–26 menghadirkan salah satu kompetisi paling kompetitif dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan tidak hanya terjadi di papan atas dalam perebutan Scudetto, tetapi juga meluas hingga perebutan tiket Liga Champions, zona Eropa, sampai drama degradasi yang baru akan ditentukan pada pekan terakhir.
Di tengah ketatnya persaingan, Inter tampil sebagai kekuatan paling dominan sepanjang musim. Namun di balik superioritas Nerazzurri, ada cerita lain yang jauh lebih mengejutkan: kebangkitan Como sebagai penantang elite baru sepak bola Italia.
Musim ini menjadi bukti bahwa Serie A telah berubah. Liga Italia tidak lagi identik dengan permainan lambat dan ultra-defensif. Kini, banyak klub mulai bermain lebih agresif, modern, dan penuh keberanian dalam membangun serangan.
Inter Jadi Tim Paling Dominan di Serie A
Inter menutup musim reguler dengan performa luar biasa. Dari 37 pertandingan, mereka mengoleksi 27 kemenangan dan mengumpulkan 86 poin.
Yang paling mencolok adalah produktivitas mereka. Inter sukses mencetak 86 gol dan hanya kebobolan 32 kali. Selisih gol +54 menjadi bukti betapa superiornya mereka dibanding rival-rival lain musim ini.
Secara taktikal, Inter tampil sangat komplet. Mereka mampu mengontrol pertandingan lewat penguasaan bola, agresif dalam high pressing, tetapi tetap solid saat kehilangan bola.
Duet Lautaro Martínez dan Marcus Thuram menjadi senjata utama di lini depan. Lautaro memimpin daftar top skor sementara Serie A dengan 17 gol, sedangkan Thuram memberi dimensi berbeda lewat pergerakan vertikal dan kemampuan membuka ruang.
Inter musim ini bukan sekadar tim yang sering menang. Mereka tampil seperti mesin dengan struktur permainan paling matang di Italia.
Napoli Konsisten, Tapi Tak Seagresif Inter
Napoli berhasil menjaga posisi di papan atas dan menjadi pesaing terdekat Inter. Meski demikian, pendekatan permainan mereka jauh berbeda.
Jika Inter bermain sangat ofensif, Napoli justru lebih pragmatis dan efisien. Mereka hanya mencetak 57 gol sepanjang musim, tetapi mampu mengubah banyak pertandingan ketat menjadi kemenangan penting.
Kekuatan Napoli ada pada organisasi pertahanan dan kemampuan melakukan transisi cepat. Mereka bermain lebih sabar, disiplin menjaga shape permainan, lalu menghukum lawan lewat serangan balik yang efektif.
Strategi itu membuat Napoli tetap stabil hingga akhir musim.
Como Jadi Sensasi Terbesar Serie A 2025–26
Tak ada cerita yang lebih mengejutkan dibanding performa Como musim ini.
Klub yang awalnya tidak diunggulkan justru berhasil bersaing di papan atas dan membuka peluang tampil di kompetisi Eropa. Como mengoleksi 68 poin dengan torehan 61 gol dan hanya 28 kali kebobolan.
Statistik tersebut bahkan lebih baik dibanding beberapa klub tradisional besar Italia.
Kesuksesan Como lahir dari pendekatan sepak bola modern. Mereka bermain agresif, berani menekan lawan sejak awal, tetapi tetap disiplin menjaga struktur pertahanan.
Anastasios Douvikas dan Nico Paz menjadi simbol keberhasilan proyek Como. Douvikas tampil tajam dengan 13 gol, sementara Nico Paz berkembang menjadi kreator serangan yang sangat berpengaruh.
Como bukan lagi sekadar tim kejutan. Mereka kini mulai dipandang sebagai kekuatan baru Serie A.
Roma Bangkit di Momen Paling Krusial
AS Roma menjadi tim dengan momentum terbaik menjelang akhir musim. Empat kemenangan beruntun membawa mereka kembali masuk persaingan Liga Champions.
Roma juga memiliki pertahanan terbaik kedua di Serie A setelah Inter dengan hanya 31 kali kebobolan.
Permainan Roma musim ini sangat mengandalkan intensitas tinggi, duel agresif, dan efektivitas saat melakukan transisi menyerang. Mereka mungkin tidak selalu dominan dalam penguasaan bola, tetapi sangat berbahaya ketika menemukan ruang.
Konsistensi di akhir musim menjadi modal penting Roma dalam mengamankan posisi empat besar.
Juventus dan Milan Masih Belum Stabil
Juventus dan AC Milan sama-sama masih menyimpan persoalan mendasar.
Juventus terlalu sering kehilangan poin akibat banyak hasil imbang. Permainan mereka kerap terlihat lambat ketika menghadapi tim dengan blok pertahanan rendah.
Di sisi lain, Milan beberapa kali tampil inkonsisten. Mereka memiliki organisasi pressing yang cukup baik, tetapi produktivitas gol masih menjadi masalah utama.
Kedua tim tetap memiliki kualitas besar, namun musim ini mereka belum menunjukkan dominasi yang benar-benar meyakinkan.
Drama Degradasi: Verona dan Pisa Kolaps
Di papan bawah, Verona dan Pisa mengalami musim yang sangat sulit.
Verona hanya mampu meraih tiga kemenangan sepanjang musim. Mereka kesulitan menciptakan peluang dan terlalu rapuh saat bertahan.
Sementara itu, Pisa menjalani musim yang lebih buruk lagi. Mereka hanya mengoleksi dua kemenangan dan menjadi tim dengan jumlah kebobolan terbanyak setelah kemasukan 69 gol.
Lima kekalahan beruntun di akhir musim menegaskan betapa sulitnya Pisa bersaing di level tertinggi sepak bola Italia.
Pekan Terakhir Jadi Penentu Segalanya
Pekan ke-38 Serie A masih menyisakan banyak drama penting.
Inter akan menghadapi Bologna dalam misi menutup musim dengan supremasi penuh. Roma berpeluang besar mengunci tiket Liga Champions saat menghadapi Verona yang sudah terdegradasi.
Sementara itu, Juventus harus menjalani derby panas melawan Torino dalam laga yang penuh tekanan.
Sorotan lain tertuju pada Como. Jika mampu mengalahkan Cremonese, mereka akan menutup musim sensasional dengan pencapaian bersejarah.
Daftar Top Skor Serie A 2025–26
Lautaro Martínez masih memimpin daftar pencetak gol terbanyak Serie A dengan koleksi 17 gol.
Di bawahnya, Anastasios Douvikas, Donyell Malen, dan Marcus Thuram sama-sama mengoleksi 13 gol. Nico Paz melengkapi daftar elite dengan 12 gol.
Persaingan top skor musim ini memang tidak terlalu didominasi satu pemain, tetapi justru memperlihatkan distribusi kualitas yang semakin merata di Serie A.
Serie A Sedang Mengalami Evolusi Besar
Musim 2025–26 memperlihatkan perubahan besar dalam wajah sepak bola Italia.
Serie A kini tidak lagi sekadar mengandalkan pertahanan rapat dan tempo lambat. Banyak tim mulai mengadopsi gaya bermain modern seperti high pressing, build-up progresif, hingga vertical attacking football.
Inter menjadi contoh kesempurnaan struktur permainan modern, sementara Como menunjukkan bagaimana klub non-unggulan bisa berkembang lewat filosofi yang jelas dan keberanian bermain menyerang.
Perubahan ini membuat Serie A kembali menjadi salah satu liga paling menarik dan kompleks secara taktik di Eropa.
Dan musim 2025–26 bisa jadi akan dikenang sebagai awal era baru calcio modern.
(seriea/ai/hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























