Tuesday, October 20, 2026
home_banner_first
OLAHRAGA

Ballon d’Or 2026: Messi, Mbappé, Haaland, Rodri, dan Vitinha Masuk Persaingan

Mistar.idSelasa, 20 Oktober 2026 pukul 11.24 WIB
ballon_dor_2026_messi_mbapp_haaland_rodri_dan_vitinha_masuk_persaingan

Ousmane Dembele saat menjadi pemenang Ballon d'Or. (foto: reuters via indiatoday/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (20/10/2026) — Persaingan Ballon d’Or 2026 tidak hanya berkutat pada Harry Kane dan Lamine Yamal. Daftar resmi 30 nominasi kategori putra juga memuat sejumlah pemain dengan modal berbeda, mulai dari produktivitas gol hingga pengaruh besar dalam permainan tim.

Di antara nama yang layak mendapat perhatian adalah Lionel Messi, Kylian Mbappé, Erling Haaland, Rodri, dan Vitinha. Kelimanya tercantum dalam daftar nominasi resmi, meski peluang mereka tidak dapat dianggap setara tanpa mempertimbangkan performa sepanjang periode penilaian.

1. Lionel Messi: Rekor yang Sulit Diabaikan

Messi memiliki delapan gelar Ballon d’Or, rekor terbanyak dalam sejarah penghargaan tersebut. Pengalamannya di level tertinggi membuat namanya selalu menarik perhatian ketika masuk daftar kandidat.

Namun, reputasi masa lalu tidak cukup untuk menjamin kemenangan berikutnya. Messi tetap harus dinilai berdasarkan kontribusi aktual bersama Inter Miami dan tim nasional Argentina selama periode penilaian 2026.

Argumen terkuatnya adalah kemampuan menciptakan peluang, distribusi umpan antarlini, dan kontribusi gol. Tantangannya adalah meyakinkan pemilih bahwa performa terbarunya lebih menentukan dibandingkan performa para kandidat yang bersinar di kompetisi Eropa.

2. Kylian Mbappé: Ketajaman di Panggung Besar

Mbappé merupakan salah satu kandidat dengan kemampuan mengubah pertandingan melalui kecepatan, akselerasi, dan penyelesaian akhir. Ia dapat beroperasi sebagai penyerang tengah maupun penyerang sayap, sehingga memberikan fleksibilitas taktis kepada tim.

Laporan Forbes mengenai persaingan tahun ini menyoroti produktivitas Mbappé di level klub dan performanya di Piala Dunia 2026. Kombinasi tersebut memperkuat pencalonannya.

Faktor penentunya adalah keseimbangan antara statistik individu dan pencapaian kolektif. Jumlah gol yang tinggi akan semakin bernilai apabila tercipta dalam pertandingan krusial dan berkontribusi langsung terhadap keberhasilan tim.

3. Erling Haaland: Ancaman dari Kotak Penalti

Haaland tetap menjadi salah satu finisher paling berbahaya dalam sepak bola modern. Kemampuan membaca ruang, melakukan pergerakan diagonal, serta menyelesaikan peluang dengan sedikit sentuhan menjadikannya ancaman konstan bagi pertahanan lawan.

Reuters melaporkan bahwa Haaland mencetak 58 gol dalam 64 pertandingan untuk Manchester City dan Norwegia. Statistik tersebut menunjukkan kapasitasnya sebagai pencetak gol elite.

Akan tetapi, penilaian Ballon d’Or juga perlu melihat bagaimana gol-gol tersebut memengaruhi hasil pertandingan. Kontribusi dalam fase gugur, konsistensi menghadapi lawan kuat, dan prestasi tim menjadi variabel penting.

4. Rodri: Pengaruh Besar yang Tak Selalu Terlihat di Papan Skor

Rodri mewakili tipe kandidat yang kekuatannya tidak selalu tercermin melalui gol atau assist. Sebagai gelandang bertahan, ia berperan menjaga keseimbangan tim, mengontrol tempo, memutus serangan lawan, dan menjadi titik awal sirkulasi bola.

Pemain seperti Rodri dapat menentukan jalannya pertandingan melalui keputusan yang jarang masuk sorotan utama: memilih kapan mempercepat tempo, kapan mempertahankan penguasaan bola, serta kapan melakukan intersepsi untuk menghentikan transisi lawan.

Ia pernah memenangkan Ballon d’Or 2024. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pemain nonpenyerang tetap memiliki peluang apabila kontribusi taktisnya sangat menentukan.

5. Vitinha: Kuda Hitam dari Mesin Kolektif PSG

Vitinha patut diperhatikan karena gelandang dengan kualitas distribusi dan kontrol permainan dapat memberikan pengaruh besar tanpa harus mencetak banyak gol.

Kemampuan menjaga sirkulasi bola, mengatasi tekanan lawan, dan mengalirkan umpan progresif menjadi modal penting bagi pemain di sektor tengah. Jika performa individu tersebut didukung prestasi besar bersama Paris Saint-Germain, namanya dapat memperoleh perhatian lebih luas.

Meski demikian, keberhasilan tim tidak otomatis menjadikan setiap pemainnya kandidat terkuat. Vitinha tetap harus bersaing dalam hal pengaruh individual dengan nama-nama yang memiliki statistik gol lebih mencolok.

Bagaimana Kejutan Bisa Terjadi?

Ballon d’Or kategori putra ditentukan melalui pemungutan suara oleh jurnalis yang mewakili negara-negara dalam kelompok peringkat FIFA yang ditetapkan untuk penghargaan tersebut. Pemilih mempertimbangkan performa individu, prestasi kolektif, serta perilaku dan sportivitas pemain.

Sistem ini membuat prediksi berdasarkan popularitas atau bursa taruhan tidak bisa diperlakukan sebagai hasil resmi. Pemain yang tidak menjadi favorit publik masih dapat mengumpulkan suara jika performanya dinilai lebih konsisten dan menentukan.

Faktor lain adalah perbedaan interpretasi antarpemilih. Seorang jurnalis mungkin menilai gelar Liga Champions sebagai indikator utama, sedangkan yang lain mengutamakan performa individu sepanjang musim.

Karena itu, kejutan tidak selalu berarti pemain yang kurang dikenal mengalahkan superstar. Kejutan juga dapat terjadi ketika pemain dengan kontribusi taktis yang kuat mengungguli kandidat yang lebih produktif dalam urusan gol.

(reuters/uefa/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN