Saturday, October 17, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Survei SMRC Oktober 2026 Catat Elektabilitas Prabowo 9,8%, Dedi Mulyadi 35,5%

Mistar.idSabtu, 17 Oktober 2026 pukul 18.44 WIB
survei_smrc_oktober_2026_catat_elektabilitas_prabowo_98_dedi_mulyadi_355

Survei SMRC Oktober 2026 Catat Elektabilitas Prabowo 9,8%, Dedi Mulyadi 35,5%. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (17/10/2026) — Peta persaingan calon presiden berubah tajam dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Oktober 2026. Elektabilitas Prabowo Subianto merosot menjadi 9,8%, sementara Dedi Mulyadi unggul dengan 35,5% dalam simulasi semi-terbuka 24 nama.

Perubahan ini berlangsung bersamaan dengan penurunan kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo. Pada Oktober 2026, tingkat kepuasan tercatat 44,5%, turun dari 81,2% pada November 2025.

Temuan tersebut menunjukkan perubahan preferensi publik yang patut dicermati menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo. Namun, hasil survei bukan prediksi hasil pemilu dan tidak otomatis menjelaskan penyebab perubahan dukungan.

Elektabilitas Prabowo Turun Tajam, Dedi Mulyadi Memimpin

Pada November 2025, Prabowo masih unggul dengan elektabilitas 34,9%, sedangkan Dedi Mulyadi memperoleh 19,7%. Pada Februari–Maret 2026, dukungan kepada Prabowo tercatat 33,3% dan Dedi 23,3%.

Peta tersebut berubah drastis pada Juli 2026. Elektabilitas Prabowo turun menjadi 14,5%, sementara Dedi naik menjadi 35%. Pada Oktober, Prabowo kembali turun ke 9,8% dan Dedi meningkat menjadi 35,5%.

Dalam rentang November 2025 hingga Oktober 2026, elektabilitas Prabowo merosot 25,1 poin persentase. Sebaliknya, Dedi bertambah 15,8 poin persentase.

Perubahan ini memperlihatkan pergeseran besar dalam preferensi responden. Meski demikian, penurunan dukungan kepada Prabowo tidak berarti seluruh pemilihnya beralih kepada Dedi. Pilihan responden juga tersebar kepada tokoh lain dan kelompok yang belum menentukan pilihan.

Ekonomi dan Evaluasi Pemerintahan Jadi Sorotan

Penurunan elektabilitas Prabowo berlangsung bersamaan dengan memburuknya sejumlah penilaian publik terhadap pemerintahan. SMRC menyoroti evaluasi masyarakat atas kondisi ekonomi, situasi politik, penegakan hukum, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Penilaian terhadap kondisi ekonomi nasional juga berubah. Proporsi responden yang menilai ekonomi buruk atau sangat buruk meningkat dari 22,7% pada November 2025 menjadi 50,8% pada Oktober 2026.

Perubahan tersebut mungkin berkaitan dengan evaluasi publik terhadap pemerintah, tetapi tidak cukup untuk membuktikan bahwa faktor ekonomi menjadi satu-satunya penyebab penurunan elektabilitas. Popularitas tokoh alternatif, pemberitaan, pengalaman rumah tangga, dan dinamika politik juga dapat memengaruhi preferensi responden.

Untuk memastikan faktor yang paling berpengaruh, diperlukan analisis lebih lanjut mengenai alasan pilihan responden dan perubahan preferensi individu dari waktu ke waktu.

Gibran dan AHY Unggul dalam Simulasi Tiga Nama

Hasil berbeda muncul ketika SMRC menguji simulasi dengan tiga kandidat, yakni Gibran Rakabuming Raka, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Prabowo Subianto.

Dalam skenario tersebut, Gibran memperoleh 29,7%, AHY 28,2%, dan Prabowo 22,7%. Sebanyak 19,4% responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.

Gibran unggul 1,5 poin persentase atas AHY. Namun, selisih itu relatif kecil dibandingkan margin of error survei yang dilaporkan sebesar ±2,9 poin persentase.

Perbedaan hasil simulasi tiga nama dan 24 nama terutama berkaitan dengan kandidat yang ditawarkan kepada responden. Dalam simulasi 24 nama, Dedi memimpin dengan 35,5%. Ketika Dedi tidak masuk dalam simulasi tiga nama, distribusi pilihan berubah di antara kandidat yang tersedia.

Karena menggunakan skenario pertanyaan berbeda, angka tersebut tidak dapat dibaca sebagai perpindahan dukungan secara langsung. Simulasi tiga nama juga bukan prediksi hasil pemilu mendatang.

Mayoritas Pemilih Gerindra Memilih Calon Lain

Survei SMRC turut menunjukkan bahwa pilihan partai tidak selalu sejalan dengan preferensi calon presiden. Dalam simulasi semi-terbuka, sekitar 20% pemilih Gerindra memilih Prabowo, sedangkan 74% masuk kategori calon lain.

Di kelompok pemilih partai lain, dukungan kepada Prabowo tercatat 17% di kalangan pemilih Golkar, 11% NasDem, 8% PAN, 6% Demokrat, 6% PDIP, 4% PKB, dan 2% PKS.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pilihan terhadap partai dan pilihan terhadap calon presiden merupakan dua hal berbeda. Pemilih dapat mendukung sebuah partai, tetapi memilih tokoh lain ketika ditanya mengenai kandidat presiden.

Kategori calon lain juga perlu dibaca secara hati-hati karena menggabungkan berbagai tokoh. Angka 74% di kalangan pemilih Gerindra, misalnya, tidak berarti seluruhnya mendukung Dedi Mulyadi atau satu pesaing tertentu.

Kepuasan terhadap Kinerja Prabowo Turun Menjadi 44,5%

Selain perubahan elektabilitas, SMRC mencatat penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo.

Pada November 2025, kepuasan publik mencapai 81,2%. Angka itu turun menjadi 66,4% pada Februari–Maret 2026, kemudian 51,1% pada Juli, dan 44,5% pada Oktober 2026.

Secara keseluruhan, kepuasan turun 36,7 poin persentase dalam periode tersebut. Pada Oktober, proporsi responden yang kurang puas atau tidak puas mencapai 53,4%.

Kepuasan terhadap presiden perlu dibedakan dari elektabilitas. Kepuasan mengukur penilaian masyarakat terhadap kinerja pejabat yang sedang menjabat, sedangkan elektabilitas mengukur pilihan responden di antara kandidat dalam skenario tertentu.

Seseorang yang puas terhadap kinerja presiden belum tentu memilihnya sebagai calon presiden. Sebaliknya, responden yang tidak puas juga belum tentu mendukung satu kandidat alternatif tertentu.

Metodologi Survei dan Batas Penafsirannya

Survei SMRC pada Oktober 2026 dilaksanakan pada 1–10 Oktober dengan melibatkan 1.213 responden. Sebanyak 1.013 responden pemilik telepon seluler diwawancarai melalui telepon, sedangkan 200 responden tanpa telepon seluler diwawancarai secara tatap muka.

SMRC melaporkan margin of error sekitar ±2,9 poin persentase pada tingkat kepercayaan 95%, dengan asumsi pengambilan sampel acak sederhana.

Margin of error menggambarkan ketidakpastian statistik akibat pengambilan sampel dalam kondisi tertentu. Angka tersebut tidak mencakup seluruh potensi kesalahan, seperti bias nonrespons, ketidakakuratan jawaban, atau pengaruh susunan pertanyaan.

Karena itu, perbedaan elektabilitas yang kecil perlu ditafsirkan hati-hati. Perubahan besar antarsurvei juga sebaiknya dibaca dengan mempertimbangkan konsistensi metode, komposisi sampel, pembobotan, dan konteks pengumpulan data.

Survei ini memberikan gambaran preferensi publik pada periode tertentu, bukan kepastian mengenai pemenang pemilu mendatang.

Peta Politik Masih Terbuka

Hasil survei SMRC Oktober 2026 menunjukkan tiga perkembangan penting: penurunan tajam elektabilitas Prabowo dalam simulasi 24 nama, keunggulan Dedi Mulyadi dalam skenario tersebut, serta merosotnya kepuasan publik terhadap kinerja presiden.

Namun, hasil simulasi tiga nama memperlihatkan bahwa urutan dukungan dapat berubah ketika pilihan kandidat dibatasi. Sementara itu, perbedaan antara pilihan partai dan pilihan calon presiden menunjukkan bahwa dukungan politik tidak selalu mengikuti garis koalisi atau identitas partai.

Bagi pembaca, kesimpulan terpenting bukan sekadar siapa yang berada di urutan pertama, melainkan bagaimana pertanyaan survei, evaluasi pemerintahan, dan pilihan alternatif membentuk angka yang dihasilkan. Dinamika tersebut perlu terus dipantau tanpa menyamakan korelasi dengan sebab-akibat atau menganggap survei sebagai hasil pemilu.

(smrc/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN