Krisis Air Pasca Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Terpaksa Konsumsi Air Sungai dan Bekas Hujan

Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12/2025). Banjir bandang yang melanda daerah itu pada Rabu (26/11/2025) mengakibatkan 18 orang meninggal dunia dan tiga orang dinyatakan hilang serta merusak ribuan rumah warga sehingga menyebabkan 206.903 jiwa dari 51.726 kepala keluarga terpaksa mengungsi. (foto: Antara)
Aceh Tamiang, MISTAR.ID
Kondisi warga korban terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, kini sangat memprihatinkan. Warga Aceh Tamiang terpaksa mengonsumsi air sungai dan bekas hujan lantaran krisis air pasca dilanda banjir bandang. Rumah warga banyak yang hancur dan "hilang" akibat hanyut terbawa arus banjir.
Warga Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Riski, mengatakan, kondisi di Aceh Tamiang saat ini tidak kondusif. Sebagian besar warga tidak memiliki apa-apa dan sangat membutuhkan bantuan, terutama makanan.
"Kalau sekarang air sudah kering sekali, sudah tandus, jadi sekarang muncul debu dari hasil lumpur banjir," katanya dikutip dari Kompas, Kamis (4/12/2025).
Riski bersyukur rumahnya tidak hancur, tetapi saat kejadian Rabu (26/11/2025) lalu, air merendam rumahnya hingga ke atap. "Alhamdulillah rumah masih kokoh, tetapi di kawasan rumah kami ada rumah hancur dan hanyut, mobil hanyut, tinggi kali airnya," ujarnya.
Saat ini, kata Riski, kebutuhan logistik atau sembako di Aceh Tamiang sudah tidak ada lagi. Sebab, pusat ekonomi Aceh Tamiang lumpuh total.
Baca Juga: Kondisi Terbaru Aceh Tamiang
"Bantuan sudah mulai masuk dari helikopter satu kemarin. Pasti kurang karena orang sudah terjebak seminggu. Kami di sini lapar, makanan kurang, apalagi air bersih memang tidak ada," katanya.
Konsumsi Air Sungai dan Hujan Hal sama juga dikonfirmasi Juru Bicara (Jubir) Pemkab Aceh Tamiang, Agusliyana Devita. Menurutnya, kondisi Aceh Tamiang saat ini belum kondusif dan warga masih banyak di pengungsian.
"Karena rumahnya (warga) banyak yang hilang dan rusak parah serta masih banyak genangan lumpur,” katanya.
Agusliyana juga tak menampik soal kondisi air bersih di sana yang sangat terbatas lantaran kondisi jaringan air juga belum berfungsi. Atas kondisi itu, sebagian warga terpaksa mengambil (mengonsumsi) air sungai dan hujan.
“Bukan air bekas banjir, tetapi air sungai dan air hujan yang masih tergenang, tetapi keruh tidak jernih. Kalau air banjir, sudah pada surut saat ini," ucapya.
PREVIOUS ARTICLE
Berangkat ke Sumatera Pagi, Wapres Gibran Tinjau Lokasi Banjir












