Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
MEDAN

Setahun Memimpin Sumut, Bobby Nasution Dinilai Proaktif Terutama Merespons Bencana

Mistar.idJumat, 20 Februari 2026 18.06
journalist-avatar-top
MA
setahun_memimpin_sumut_bobby_nasution_dinilai_proaktif_terutama_merespons_bencana

Rafriandi Nasution. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pengamat kebijakan publik dan politik Sumatera Utara (Sumut), Rafriandi Nasution, menilai tahun pertama kepemimpinan Bobby Nasution sebagai Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) menghadirkan sejumlah capaian, sekaligus menyisakan catatan evaluasi.

Pasalnya, secara umum ia menilai Bobby Nasution sebagai kepala daerah yang proaktif, terutama dalam penanganan bencana dan percepatan pembangunan infrastruktur strategis di wilayah tersebut.

Menurutnya, Bobby merupakan salah satu kepala daerah di Sumut yang telah melalui uji kompetensi kepemimpinan, mulai dari menjabat sebagai Wali Kota Medan hingga kini menjadi gubernur. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam mengelola pemerintahan di level provinsi.

“Proyek-proyeknya memang prestisius. Soal nilainya A atau B masih bisa diperdebatkan. Tetapi yang jelas ada perubahan yang dikerjakan,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Ia menilai rekam jejak Bobby saat memimpin Kota Medan menjadi fondasi kuat dalam mendorong pembangunan di Sumut. Pasalnya, sejumlah proyek strategis seperti penyelesaian Infrastruktur dan pembangunan fasilitas publik di berbagai daerah disebut sebagai bukti nyata percepatan pembangunan.

Ia mengatakan di bawah kepemimpinan Bobby, pemerataan pembangunan khususnya di wilayah Kepulauan Nias menjadi salah satu sorotan pubkik. Pasalnya, pembangunan di wilayah tersebut saat ini menjadi salah satu program prioritas.

"Ini adalah pertama kalinya kita melihat seorang gubernur begitu fokus pada Nias. Dari Nias, Nias Selatan, hingga Nias Utara, kepala daerah mulai merasakan perhatian serius dari provinsi ini," kata Rafriandi.

Namun, ia mengingatkan agar pembangunan tersebut tidak hanya berorientasi pada fisik semata. Pemerintah kabupaten/kota, terutama di wilayah kepulauan, diminta mampu menjaga keberlanjutan program sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi daerah agar manfaat pembangunan dirasakan masyarakat secara langsung.

Salah satu poin yang paling diapresiasi, lanjutnya, adalah sikap proaktif Bobby dalam merespons bencana. Ia kerap turun langsung ke lokasi terdampak, bahkan pada momentum awal Ramadan.

“Secara psikologis itu bentuk penghormatan kepada masyarakat. Malam pertama puasa ia berada di pengungsian, bukan di pusat kota. Ini menunjukkan empati dan kepemimpinan yang kuat,” ujarnya.

Ia mengatakan Sumut sendiri dikenal sebagai daerah rawan bencana hidrometeorologi, mengingat banyaknya aliran sungai besar yang meningkatkan risiko banjir. Dalam konteks ini, respons cepat pemerintah provinsi dinilai sangat krusial.

Ia menilai respons tersebut didukung oleh akses kuat Bobby ke pemerintah pusat. Dalam beberapa kejadian, Presiden, Wakil Presiden, hingga sejumlah menteri turun langsung ke Sumut untuk mempercepat penanganan. “Kita bersyukur gubernur memiliki akses ke Jakarta. Ini mempercepat bantuan dan koordinasi di lapangan,” katanya.

Meski demikian, evaluasi satu tahun tersebut juga mencatat sejumlah persoalan serius, terutama terkait manajemen pemerintahan. Pengunduran diri beberapa pejabat hingga kasus operasi tangkap tangan (OTT) disebut menjadi catatan negatif yang tidak bisa diabaikan.

“Ini problematika manajemen kepemimpinan di setiap pemerintahan, baik di tingkat desa, kota, provinsi, maupun negara. Tetapi tetap harus dibenahi,” ucapnya.

Ia mendorong pembenahan internal melalui sistem kerja yang lebih kompetitif dan profesional. Menurutnya, jajaran pemerintahan harus memiliki standar kinerja tinggi serta konsisten dalam mencapai target.

"Analogi saya adalah bahwa kabinet seharusnya seperti pacuan kuda atau maraton. Mereka yang tidak bisa berlari cepat dan konsisten harus dievaluasi," katanya.

Ke depan ia berharap pemerataan pembangunan terus berlanjut tidak hanya di Kepulauan Nias, tetapi juga ke wilayah lain seperti Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, hingga kawasan Pantai Timur Sumatera Utara.

Ia menegaskan target pembangunan bukan sekadar berdirinya infrastruktur, melainkan dampak ekonomi nyata, seperti terciptanya lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, ketahanan pangan, serta sistem mitigasi bencana yang lebih terukur.

"Tahun ini memiliki aspek positif dan negatif. Aspek positif tidak boleh diabaikan, tetapi aspek negatif harus ditangani. Secara keseluruhan, gubernur kita telah proaktif," ucapnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN