Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Ragam Mitos Tentang Kolagen

Mistar.idSelasa, 31 Maret 2026 pukul 06.00 WIB
ragam_mitos_tentang_kolagen

Ilustrasi. (Foto: Klik Dokter)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Dunia kecantikan terus dipenuhi berbagai istilah baru yang kerap membingungkan, seperti ceramide hingga peptide. Di antara banyaknya pilihan tersebut, kolagen menjadi salah satu komponen penting yang layak mendapat perhatian.

Mengutip Stylist Magazine, Selasa (30/3/2026), protein ini berfungsi menjaga struktur kulit, mempertahankan kekenyalan, serta membantu kulit tetap elastis. Meski begitu, masih banyak kesalahpahaman tentang kolagen yang beredar. Berikut penjelasannya:

1. Kolagen hanya bisa dipulihkan lewat suplemen

Anggapan bahwa kolagen hanya bisa dikembalikan melalui suplemen ternyata tidak sepenuhnya tepat. Perawatan dari luar juga memiliki peran penting. Konsultan dokter kulit Aiza Jamil menyebutkan bahwa produk topikal dapat membantu memperbaiki tampilan kulit.

“Produk perawatan kulit yang tepat dapat membantu mengurangi tampilan kehilangan kolagen melalui hidrasi dan meratakan warna dan tekstur kulit,” kata dr. Jamil, dilansir dari Kompas.com.

Menurutnya, penggunaan pelembap dengan kandungan kolagen berukuran kecil, peptide, serta tripeptide tembaga dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kekencangan kulit.

“Produk yang mengandung humektan seperti peptide dapat membantu kulit menahan air dan menjaga hidrasi, sehingga garis-garis halus dan kerutan tampak kurang terlihat dan kulit tampak lebih halus dan kenyal,” ujar dr. Jamil.

2. Penuaan hanya disebabkan oleh berkurangnya kolagen

Penurunan kolagen memang berkontribusi pada penuaan, tetapi bukan satu-satunya faktor.

“Meskipun kehilangan kolagen memang terjadi setelah usia 25 tahun dan berkontribusi pada tanda-tanda penuaan, itu bukanlah satu-satunya penyebab penuaan kulit,” jelas dr. Jamil.

Faktor lain seperti paparan sinar ultraviolet, polusi, peradangan, serta gaya hidup tidak sehat, juga mempercepat munculnya tanda penuaan. Karena itu, perawatan kulit perlu dibarengi dengan pola hidup yang baik.

3. Penurunan kolagen baru terjadi di usia 40-an

Banyak yang mengira produksi kolagen mulai menurun saat usia 40 tahun. Padahal, proses tersebut sudah dimulai sejak usia 20-an.

“Produksi kolagen mulai menurun sejak pertengahan usia 20-an, sehingga strategi pencegahan dini menjadi paling efektif,” ujar Jacqueline Yong.

Ia menekankan pentingnya perawatan sejak dini, karena mencegah kerusakan jauh lebih mudah dibanding memperbaikinya.

“Pada saat tanda-tanda penuaan yang terlihat muncul, kehilangan kolagen telah terjadi selama bertahun-tahun. Melakukan perawatan kolagen sejak dini bukanlah tentang ‘anti-penuaan’, tetapi tentang menjaga kekuatan, elastisitas, dan ketahanan kulit dari waktu ke waktu,” tuturnya.

4. Kolagen hanya sekadar tren industri kecantikan

Sebagian orang menilai kolagen hanyalah strategi pemasaran. Namun, pandangan ini dibantah oleh para ahli.

Pendiri dan direktur Clinicbe, Barbara Kubicka, menegaskan kolagen memiliki dasar ilmiah yang kuat dalam menjaga struktur kulit.

“Kolagen bukanlah tren, melainkan fondasi struktural bagaimana kulit kita mempertahankan dirinya sendiri. Ketika produksi kolagen mulai menurun, kehilangan itu akan semakin cepat dengan paparan sinar matahari, stres kronis, kurang tidur, dan perubahan hormonal,” ucapnya.

Menurutnya, meningkatnya perhatian dunia dermatologi terhadap kolagen sejalan dengan perkembangan riset medis yang semakin maju.

“Sekarang kita jauh lebih memahami cara melindungi kolagen yang sudah ada dan, yang terpenting, cara merangsang produksi kolagen baru melalui perawatan berbasis bukti dan perawatan kulit yang tepat sasaran," ucap dia. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN