Psikolog Ungkap Tanda Masalah Mental yang Kerap Tak Disadari

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID - Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie mengingatkan orang yang tetap bekerja, terlihat produktif, dan sering tersenyum belum tentu terbebas dari masalah kesehatan mental.
“Masalah kesehatan mental tidak selalu terlihat dalam bentuk menangis, bersedih, atau menarik diri. Ada individu yang tetap bekerja, tersenyum, bahkan terlihat sangat produktif, tetapi sebenarnya sedang mengalami tekanan psikologis yang cukup berat,” kata Efnie, dikutip dari Antara, Sabtu (10/10/2026).
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu mengatakan, kondisi mental seseorang perlu dikenali melalui perubahan emosional, kognitif, perilaku, dan fisiologis, bukan hanya dari penampilan luarnya.
“Karena itu, jangan hanya bertanya apakah seseorang terlihat baik-baik saja. Cobalah mengenali apakah ia masih mampu menjalani kehidupannya dengan baik secara emosional, kognitif, sosial, dan fisik,” ujarnya.
Efnie menjelaskan, perubahan emosional pada seseorang dapat ditandai dengan meningkatnya sensitivitas, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sering menangis, merasa hampa, atau kehilangan kemampuan menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan.
Sementara itu, perubahan kognitif dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, sulit mengambil keputusan, terus-menerus berpikir negatif, atau merasa pikirannya selalu penuh.
Dari sisi perilaku, seseorang yang mengalami tekanan psikologis dapat mulai menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan motivasi, mengalami perubahan produktivitas, atau menunjukkan perilaku yang berbeda dari kebiasaannya.
Adapun perubahan fisiologis dapat ditandai dengan gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan berkepanjangan, sakit kepala, ketegangan otot, maupun keluhan fisik lainnya yang perlu dievaluasi penyebabnya.
Meski demikian, Efnie menegaskan bahwa munculnya satu atau dua tanda perubahan tersebut tidak serta-merta menunjukkan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental tertentu.
“Yang perlu diperhatikan keluarga adalah perubahan yang cukup signifikan dari kondisi biasanya, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu fungsi kehidupannya,” kata psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia-Himpunan Psikologi Indonesia itu.
Ia menyarankan agar seseorang mendapatkan evaluasi profesional apabila perubahan kondisi mental berlangsung menetap, terutama selama sekitar dua minggu atau lebih, atau menunjukkan gejala yang semakin berat.
Namun, menurut Efnie, pertolongan tidak perlu ditunda hingga dua minggu apabila seseorang menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan mental yang berat.
Tanda bahaya tersebut antara lain keinginan untuk menyakiti diri sendiri, keputusasaan ekstrem, atau pembicaraan tentang keinginan mengakhiri hidup.
Jika menemukan kondisi tersebut, keluarga dan orang-orang terdekat perlu segera memberikan bantuan dan mendampingi individu tersebut untuk mengakses layanan kesehatan mental.
Efnie menekankan pentingnya kepekaan keluarga dan lingkungan sekitar dalam mengenali perubahan kondisi seseorang agar dukungan dan pertolongan dapat diberikan sesuai kebutuhan. (hm25/antara)
PREVIOUS ARTICLE
Kondisi Terkini Siswa Keracunan MBG di RSU Imelda Medan






















































