Thursday, October 8, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Pasien ISPA di Siantar Melonjak, Polusi Disebut Jadi Pemicu

Mistar.idKamis, 8 Oktober 2026 pukul 10.44 WIB
pasien_ispa_di_siantar_melonjak_polusi_disebut_jadi_pemicu

Kepala IGD Rumah Sakit Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar, dr. Yabes Kafiar. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID – Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) meningkat di Kota Pematangsiantar. Meningkatnya pasien ISPA disebut karena polusi udara, asap, hingga debu vulkanik.

Kepala IGD Rumah Sakit Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar, dr. Yabes Kafiar mengatakan, peningkatan pasien ISPA terlihat dari banyaknya warga yang datang dengan keluhan gangguan saluran pernapasan.

"Sepekan belakangan ini pasien ISPA memang melonjak. Keluhannya beda-beda tiap orang, tapi umumnya demam tinggi, batuk, pilek, sama badan pegal dan nyeri di bagian sendi," kata dr. Yabes saat ditemui Mistar, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, virus menjadi salah satu penyebab ISPA. Namun, kondisi lingkungan juga dapat memperparah gangguan pada saluran pernapasan.

"Penyebabnya kompleks. Virus jelas ada, tapi makin parah karena faktor lingkungan seperti polusi udara, paparan asap, sampai debu vulkanik yang bikin saluran pernapasan gampang iritasi," ujarnya.

Pasien yang mengalami gejala ISPA berasal dari berbagai kelompok usia, mulai balita, anak-anak, remaja hingga lansia. dr. Yabes mengingatkan agar masyarakat lebih waspada jika gejala dialami lansia atau orang yang memiliki penyakit penyerta.

"Ujung-ujungnya balik lagi ke daya tahan tubuh masing-masing. Yang paling riskan itu lansia sama yang ada komorbid. Kelihatannya cuma batuk pilek biasa, tapi kalau lengah bisa merembet cepat jadi sesak napas berat," katanya.

Peningkatan kasus ISPA ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat yang mengaitkannya dengan Influenza A.

dr. Yabes menjelaskan, kedua penyakit tersebut disebabkan virus yang berbeda meskipun gejala awalnya dapat terlihat serupa.

"Virus pembawanya beda jauh. Covid-19 itu biangnya SARS-CoV-2, kalau Influenza ya dari virus Influenza. Kelihatan mirip cuma gara-gara di fase awal sama-sama bikin demam, batuk, sama pilek," tuturnya.

Untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi Influenza A atau B, diperlukan pemeriksaan swab. Sementara flu biasa pada umumnya dapat pulih dengan membaiknya daya tahan tubuh.

Untuk mencegah penularan, pihak RS Murni Teguh Horas Insani mengimbau masyarakat memperketat perlindungan diri. Di antaranya menggunakan masker saat berada di luar rumah dan mempertimbangkan vaksinasi flu.

Bagi masyarakat yang mengalami gejala ringan, istirahat yang cukup, mengonsumsi obat pereda gejala dan banyak minum air putih. Namun, pemeriksaan medis diperlukan apabila kondisi memburuk.

"Kalau demamnya di suhu tinggi sampai 1–2 hari, terus pasien sudah mulai susah masuk makanan atau minuman, langsung bawa saja ke faskes terdekat mau puskesmas, klinik, atau RS," ucapnya.

Khusus anak-anak, dr. Yabes mengingatkan agar demam tinggi tidak dibiarkan karena dapat berisiko menyebabkan kejang dan dehidrasi.

"Anak kecil kalau demam tingginya dibiarkan bisa merembet ke kejang sama dehidrasi parah. Makanya harus langsung periksakan ke dokter daripada kecolongan," ucapnya.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN