Lima Tanda Awal Alzheimer yang Bisa Terdeteksi dari Cara Bicara

Alzheimer. (Foto: Max Health Care/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Setiap tahun, sekitar 10 juta orang di seluruh dunia didiagnosis menderita demensia. Jumlah ini terus meningkat, dan salah satu bentuk demensia yang paling umum adalah Alzheimer.
Penyakit ini perlahan merusak daya ingat dan kemampuan berpikir. Gejala biasanya bermula dari kesulitan mengingat hal-hal sederhana.
Dilansir dari Kompas.com, Sabtu (3/10/2025), alzheimer didefinisikan sebagai gangguan penurunan fungsi otak yang memengaruhi ingatan, emosi, pengambilan keputusan, komunikasi, hingga perilaku sehari-hari.
Mendeteksi Alzheimer sejak dini sangat penting agar pasien dan keluarga dapat segera memperoleh dukungan dan perawatan medis yang tepat. Salah satu tanda awal yang dapat diamati adalah perubahan dalam cara seseorang berbicara.
Berikut lima tanda awal Alzheimer terkait kemampuan bicara yang perlu diwaspadai:
1. Jeda, keraguan, dan ketidakjelasan
Penderita Alzheimer kerap kesulitan mengingat kata-kata tertentu sehingga muncul jeda dan keraguan dalam berbicara. Mereka bisa mengganti kata yang lupa dengan istilah umum, seperti “sesuatu” atau mendeskripsikan di sekitarnya. Misalnya, alih-alih menyebut “anjing”, mereka berkata: “Hewan peliharaan orang… yang menggonggong… saya dulu punya waktu kecil.”
2. Menggunakan kata dengan makna yang salah
Kesulitan memilih kata yang tepat membuat penderita kadang mengganti kata dengan istilah dari kategori yang sama. Contohnya, menyebut “kucing” ketika sebenarnya ingin mengatakan “anjing”, atau menggunakan kata yang lebih umum seperti “hewan” alih-alih “kucing”.
3. Membicarakan tugas alih-alih mengerjakannya
Penderita Alzheimer sering hanya membicarakan perasaan mereka terhadap tugas tersebut. Misalnya, “Saya tidak yakin bisa melakukan ini,” atau “Dulu saya cukup mahir dalam hal ini,” tanpa benar-benar menjelaskan atau mengerjakan tugas yang dimaksud.
4. Kosakata semakin terbatas
Bahasa yang digunakan menjadi lebih sederhana dan terbatas. Mereka cenderung mengulang kata yang sama, serta banyak menggunakan kata sambung umum seperti “yang itu”, “dan”, atau “tetapi” ketimbang memakai kosakata yang lebih bervariasi.
5. Kesulitan menemukan kata yang tepat
Penderita bisa kesulitan menyebutkan nama benda atau kategori tertentu. Tes kognitif dokter biasanya menyoroti gejala ini, misalnya ketika pasien diminta menyebut berbagai jenis hewan atau benda.[]
























