Bencana Sumatra, Psikolog: Trauma Mengintai Korban Segala Usia

Tim Himpsi Sumut bertemu langsung dengan para korban bencana Sumatra untuk melakukan trauma healing. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Bencana besar yang melanda tiga provinsi di Sumatra tidak hanya menyisakan kerusakan fisik dan kerugian materi, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang dalam bagi para korban, termasuk anak-anak. Hal itu disampaikan psikolog dari Ekspresi Consulting and Research, Jeffry.
Menurutnya, dampak psikologis merupakan konsekuensi yang tidak terlihat namun sangat nyata.
“Tentu saja selain berdampak pada materi dan fisik dari korban, secara tidak langsung dan tidak terlihat, dampak psikologis sangat nyata dihadapi oleh korban bencana, tidak terbatas usia,” ujarnya saat dihubungi Mistar, Rabu (10/12/2025).
Jeffry menyebut trauma pasti terjadi ke korban pada umumnya karena mengalami kejadian ekstrem. Sebab, korban harus melihat secara langsung anggota keluarganya yang meninggal di lokasi.
“Ada juga yang tidak dapat mengungsi karena tidak ada anggota keluarga lain, ada juga yang harus tinggal di posko karena rumah dan segala benda habis ditelan bencana,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa para psikolog terus melakukan pendampingan intensif untuk membantu korban pulih. Ia mencontohkan langkah yang sudah dilakukan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Sumatera Utara yang turun langsung ke lokasi bencana.
“Seperti saat ini, Himpsi Sumatera Utara bertindak langsung ke Tapanuli Selatan untuk memberi donasi dan melakukan trauma healing, pendampingan intensif sehingga trauma tersebut tidak menjadi penghalang bagi korban untuk melanjutkan hidupnya,” tutur Jeffry.
Jeffry menambahkan bahwa masyarakat umum juga dapat berperan dalam membantu pemulihan psikologis korban. Ia menyarankan penerapan psychological first aid atau pertolongan pertama psikologis.
“Masyarakat dapat memberi dukungan emosional dan sosial, gotong royong dan mengarahkan ke profesional untuk kasus yang berat, selain itu juga memberi perhatian khusus kepada anak-anak, wanita dan lansia,” ucapnya.
Sementara untuk pemerintah, Jeffry menekankan pentingnya kehadiran negara dalam mempercepat pemulihan mental masyarakat. “Pemerintah dapat mengirimkan tim profesional, memperbaiki akses fasilitas umum sehingga pemulihan lebih cepat karena aktivitas rutin kembali dilakukan dan membuat program rehabilitasi,” katanya. (hm20)























