Agar Tak Bau Mulut Selama Berpuasa, Terapkan Konsep Isi Piringku

Ilustrasi. (Foto: Persada Hospital)
Jakarta, MISTAR.ID
Berpuasa selama lebih dari 12 jam menyebabkan perubahan pada metabolisme tubuh sekaligus kebutuhan energi harian. Di samping itu, keluhan bau mulut kerap muncul dan dapat mengganggu aktivitas maupun interaksi sosial.
Menurut dosen kesehatan masyarakat dari Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh, bau mulut saat puasa bukan semata-mata akibat tidak makan dan minum dalam waktu lama. Kondisi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi saat sahur.
Ia menjelaskan bahwa makanan dengan kandungan lemak tinggi serta protein berlebih dapat memicu aroma tidak sedap karena menghasilkan senyawa sulfur. Senyawa inilah yang berperan besar dalam menimbulkan bau mulut.
Selain itu, konsumsi minuman berkafein secara berlebihan juga dapat memperburuk kondisi tersebut. Kafein memiliki efek diuretik yang membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan sehingga mulut menjadi kering.
“Kondisi mulut yang kering memudahkan bakteri berkembang dan memicu bau mulut,” ujar Lailatul, dilansir dari Kompas.com, Rabu (25/2/2026).
Makanan yang mengandung banyak gula juga berpotensi memperparah bau mulut karena dapat menjadi sumber nutrisi bagi bakteri di dalam rongga mulut. Karena itu, masalah bau mulut selama puasa lebih berkaitan dengan pola makan saat sahur dibandingkan lamanya menahan makan dan minum.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menyarankan menjaga kebersihan gigi dan mulut serta memperbanyak konsumsi buah yang kaya kandungan air. Ia menegaskan bahwa pengaturan menu makan selama Ramadan sangat berperan dalam menjaga kesehatan mulut.
Pemilihan makanan juga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh selama berpuasa. Mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar tanpa disertai lauk dan sayuran dapat memicu kenaikan gula darah secara cepat yang kemudian turun drastis, sehingga tubuh lebih mudah merasa lapar dan lemas.
Karena itu, Lailatul menganjurkan penerapan konsep “Isi Piringku” dengan komposisi seimbang antara karbohidrat, protein, sayur, dan buah.
“Nasi memiliki indeks glikemik tinggi yang menyebabkan lonjakan gula darah juga tinggi. Ketika lonjakan gula darah itu tinggi, insulin juga tinggi. Sehingga gula darah juga bisa turun dengan cepat,” ujarnya.
Saat berbuka, ia menyarankan agar diawali dengan minum air putih kemudian mengonsumsi satu hingga tiga butir kurma atau buah yang mengandung gula alami, bukan makanan dengan tambahan gula tinggi.
Asupan cairan juga harus dijaga dengan baik. Ia merekomendasikan pola minum 2-4-2 untuk memenuhi kebutuhan sekitar dua liter air per hari, yaitu dua gelas saat berbuka, empat gelas secara bertahap pada malam hari hingga sebelum tidur, serta dua gelas saat sahur.
Dengan pola makan yang tepat dan kebutuhan cairan yang terpenuhi, tubuh diharapkan tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa sekaligus meminimalkan kemungkinan munculnya bau mulut. (hm20)






















