Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

UNICEF: Lebih dari 100.000 Anak Mengungsi di Kongo Akibat Kekerasan

Mistar.idSenin, 15 Desember 2025 pukul 14.02 WIB
unicef_lebih_dari_100000_anak_mengungsi_di_kongo_akibat_kekerasan

Pengungsi tiba dengan perahu di Pelabuhan Nzulo, dekat Goma, Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo (DRC) bagian timur pada 23 Januari 2025. (Foto: Antara/Xinhua/Zanem Nety Zaidi)

news_banner

Kinshasa, MISTAR.ID

UNICEF memperingatkan lebih dari 100.000 anak terpaksa mengungsi akibat eskalasi terbaru konflik bersenjata di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DR Kongo). Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat seiring meluasnya kekerasan.

Dalam pernyataan yang dirilis Minggu (14/12/2025), UNICEF menyebutkan bahwa sejak 1 Desember, pertempuran intens telah memaksa lebih dari 500.000 orang mengungsi, dengan anak-anak mencakup lebih dari 100.000 pengungsi di Provinsi Kivu Selatan.

UNICEF melaporkan ratusan orang telah tewas sejak 2 Desember, termasuk anak-anak. Selain itu, empat pelajar dilaporkan meninggal dunia, enam lainnya luka-luka, serta sedikitnya tujuh sekolah diserang atau mengalami kerusakan akibat konflik.

Eskalasi kekerasan tersebut memaksa ratusan ribu anak dan keluarga mengungsi di dalam wilayah DR Kongo maupun ke negara-negara tetangga, termasuk Burundi dan Rwanda. UNICEF mencatat lebih dari 50.000 pendatang baru di Burundi antara 6 hingga 11 Desember, hampir separuhnya merupakan anak-anak.

UNICEF menegaskan bahwa anak-anak tidak seharusnya menjadi korban konflik bersenjata.

Sementara itu, kelompok pemberontak M23 dilaporkan terus memperluas wilayah kekuasaannya di Provinsi Kivu Selatan, meskipun telah ada kesepakatan damai antara DR Kongo dan Rwanda yang ditandatangani di Washington. Kelompok tersebut diketahui menguasai sejumlah wilayah strategis, termasuk Goma dan Bukavu, yang direbut awal tahun ini.

PBB dan pemerintah DR Kongo menuding Rwanda mendukung M23, namun tuduhan tersebut telah dibantah oleh pihak Rwanda. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan tindakan Rwanda di wilayah timur DR Kongo merupakan pelanggaran nyata terhadap Kesepakatan Washington.

Pada 4 Desember, Presiden DR Kongo Felix Tshisekedi dan Presiden Rwanda Paul Kagame menandatangani perjanjian damai dan ekonomi di Washington dengan tujuan mengakhiri konflik di wilayah timur Kongo. Konflik bersenjata di kawasan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menyebabkan ribuan korban jiwa serta jutaan pengungsi. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN