PM India: AI Harus Berpusat pada Manusia, Bukan Sekadar Mesin

Perdana Menteri India, Narendra Modi. (Foto: Konjen India di Medan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengatakan kecerdasan buatan (AI) harus berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menjadikan manusia sekadar data bagi mesin. Pada KTT Dampak AI 2026 di New Delhi, Modi menekankan bahwa masa depan AI harus dibangun dengan pendekatan yang berpusat pada manusia.
Menurut Modi, dunia saat ini berada di titik balik sejarah ketika AI berdiri sejajar dengan penemuan besar seperti api, tulisan, listrik, dan internet. Namun, ia mengingatkan bahwa berbeda dengan revolusi teknologi sebelumnya yang memakan waktu puluhan tahun, perubahan akibat AI dapat terjadi hanya dalam hitungan minggu dan berdampak secara global.
“AI memang membuat mesin menjadi cerdas, tetapi yang lebih penting, ia adalah pengganda kekuatan bagi niat manusia,” ujar Narendra Modi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/2/2026).
Karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan AI berorientasi pada kesejahteraan manusia, bukan semata-mata pada kecanggihan teknologi.
Dalam forum yang dihadiri perwakilan lebih dari 100 negara tersebut, Modi menyebut India membawa skala dan energi dalam setiap inisiatifnya, termasuk dalam pengembangan AI. Ia menggambarkan ribuan anak muda yang memadati aula pameran sebagai bukti bahwa gerakan inovasi dan adopsi AI telah menjadi gerakan massal di India. Rasa ingin tahu generasi muda, katanya, menjadikan KTT sebagai salah satu forum AI paling inklusif di dunia.
Mengusung prinsip Sarvajana Hitaya, Sarvajana Sukhaya yang berarti kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua, Modi menempatkan kesejahteraan manusia sebagai inti percakapan global tentang AI. Ia menegaskan bahwa teknologi harus melayani manusia.
“Sebagaimana yang telah kami terapkan melalui infrastruktur publik digital seperti sistem pembayaran dan program vaksinasi,” tuturnya.
Ia juga mencontohkan pemanfaatan AI di sektor pertanian dan peternakan. Asisten digital ‘Sarlaben’ yang diluncurkan koperasi susu AMUL, misalnya, disebut telah memberi panduan waktu nyata kepada jutaan peternak sapi perah dalam bahasa lokal mereka.
Selain itu, platform berbasis AI Bharat VISTAAR membantu petani memperoleh informasi mulai dari cuaca hingga harga pasar secara multibahasa.
Untuk memastikan tata kelola AI tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, Modi memperkenalkan kerangka MANAV. Ia menjelaskan bahwa MANAV mencakup sistem moral dan etika, tata kelola yang akuntabel, penghormatan terhadap kedaulatan data nasional, akses yang inklusif, serta kepatuhan hukum dan legitimasi. “Kepercayaan adalah fondasi masa depan AI,” katanya.
Modi juga menyoroti risiko yang muncul dari sistem generatif, seperti deepfake dan disinformasi. Ia mengibaratkan perlunya label keaslian pada konten digital sebagaimana label nutrisi pada makanan.
Ia mendesak komunitas global menyepakati standar bersama untuk watermarking dan verifikasi sumber, serta menyampaikan bahwa India telah mewajibkan pelabelan jelas atas konten sintetis melalui regulasi hukum.
Perlindungan anak-anak turut menjadi perhatian. Menurutnya, sistem AI harus dirancang dengan pengamanan yang mendorong keterlibatan yang bertanggung jawab dan didampingi keluarga, sejalan dengan perhatian dunia terhadap sistem pendidikan.
Ia menekankan bahwa teknologi akan memberikan manfaat terbesar bila dibagikan secara terbuka, bukan dijadikan aset strategis yang tertutup. Platform terbuka, sebutnya, memungkinkan jutaan anak muda berkontribusi menjadikan teknologi lebih aman dan inklusif.
Modi meyakini bahwa AI akan melahirkan profesi-profesi baru sebagaimana internet pernah menciptakan peluang yang sebelumnya tak terbayangkan. Karena itu, India mendorong peningkatan keterampilan, pelatihan ulang, dan pembelajaran sepanjang hayat melalui berbagai program berskala besar.
“Dalam KTT ini, saya bangga dengan perusahaan-perusahaan India yang meluncurkan model dan aplikasi AI asli. Ini mencerminkan kedalaman teknologi komunitas inovasi muda kami,” ucapnya.
Sebagai negara dengan populasi muda dan talenta teknologi yang besar, India dinilai memiliki posisi unik untuk memaksimalkan potensi AI. Di bawah Misi AI India, pemerintah telah mengerahkan ribuan GPU dan berencana menambah kapasitas komputasi dengan biaya terjangkau agar bahkan startup kecil dapat bersaing di tingkat global.
Selain itu, India membentuk Repositori AI nasional untuk mendemokratisasi akses terhadap dataset dan model AI. Dari pengembangan semikonduktor hingga penelitian terapan, pemerintah disebut fokus pada seluruh rantai nilai ekosistem AI.
Modi juga turut mengundang dunia untuk merancang dan mengembangkan teknologi di India, lalu menyebarkannya ke seluruh dunia. Ia menyatakan bahwa solusi yang berhasil di India dapat melayani umat manusia di mana pun, sejalan dengan visinya menjadikan AI sebagai kebaikan bersama global. (hm20)





















