Banjir, Ketimpangan, dan Krisis Iklim: Seruan Mendesak Afrika Selatan Jelang KTT G20

Seorang relawan mengenakan pakaian selam membersihkan Sungai Jukskei di kota Alexandra, Johannesburg, Afrika Selatan, Rabu, 12 November 2025. (Foto: AP/Themba/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Di kota tertua di Afrika Selatan, para relawan berbaju selam terjun ke aliran Sungai Jukskei yang tercemar hingga setinggi paha. Mereka memperbaiki jaring penangkap sampah yang rusak akibat hujan deras. Tanpa jaring ini, permukiman padat di Alexandra—dataran rendah di pinggiran Johannesburg—bisa menghadapi banjir besar kapan saja.
Akhir pekan ini, Johannesburg menjadi tuan rumah pertemuan puncak pertama Kelompok 20 (G20) di benua Afrika. Afrika Selatan ingin menjadikan isu-isu yang menghantam negara-negara miskin sebagai prioritas, termasuk meningkatnya bencana yang diperparah oleh perubahan iklim.
Pemerintah Afrika Selatan berencana mendesak negara kaya serta lembaga keuangan internasional agar memberikan dukungan lebih besar—tuntutan yang juga disuarakan dalam perundingan iklim global di Brasil.
Lebih dari setengah juta warga Alexandra tinggal tidak jauh dari distrik finansial termewah di Afrika Selatan, Sandton. Namun banjir rutin merendam jembatan dan membuat anak-anak tak bisa berangkat sekolah.
“Ini bahaya besar,” kata Semadi Manganye, warga setempat sekaligus pendiri kelompok relawan Alexandra Water Warriors. Demikian dikutip dari AP News, Rabu (19/11/2025).
Ketimpangan yang Memperparah Krisis
“Kerusakan iklim berkaitan langsung dengan kerusakan akibat ketimpangan,” ujar Binaifer Nowrojee, presiden Open Society Foundations. Negara-negara berkembang, kata dia, sering terjebak pada pilihan sulit antara membangun ekonomi atau mengambil tindakan iklim.
Bank Dunia mencatat negara-termiskin menghadapi bencana alam hampir delapan kali lebih banyak pada 2010–2020 dibandingkan dekade 1980–1990. Afrika Selatan sendiri dilanda sejumlah badai tropis mematikan dalam satu dekade terakhir. Siklon Idai pada 2019 menghancurkan Mozambik, Malawi, dan Zimbabwe dengan kerugian sekitar $2 miliar—angka yang sangat besar jika dibandingkan PDB Malawi yang hanya $12 miliar.
Tahun lalu, fenomena El Nino memicu salah satu kekeringan terburuk dalam beberapa dekade, merusak pertanian skala kecil dan semakin memiskinkan jutaan orang.
Pendanaan Iklim Kembali Jadi Sorotan
Pendanaan iklim kembali menjadi isu panas menjelang G20. Pada KTT iklim PBB tahun lalu, negara kaya berjanji mengumpulkan setidaknya $300 miliar per tahun hingga 2035 untuk membantu negara berkembang menghadapi dampak perubahan iklim. Namun para ahli menilai kebutuhan sesungguhnya mencapai sekitar $1 triliun per tahun hingga 2030.
Kehadiran Amerika Serikat, salah satu pencemar terbesar dunia, dipastikan absen. Pemerintahan Donald Trump memboikot pertemuan G20 setelah mengklaim—tanpa bukti dan ditolak luas—bahwa Afrika Selatan menganiaya minoritas kulit putih. Absennya AS membuat upaya menghasilkan deklarasi iklim G20 semakin berat.
Relawan Lokal yang Berjuang di Tengah Ketimpangan
Sejak dibentuk pada 2021, Alexandra Water Warriors menanam pohon asli, membersihkan dan mendaur ulang sampah sungai, hingga menjaga lingkungan dari polusi. Mereka menghadapi masalah yang juga dialami banyak kota kecil dan permukiman miskin di Afrika Selatan—negara dengan ekonomi paling maju di benua tersebut, tetapi juga memiliki tingkat ketimpangan tertinggi.
Dalam laporan terbaru Amnesty International untuk KTT G20, pemerintah Afrika Selatan dianggap gagal memenuhi hak dasar sekitar 5 juta warga yang tinggal di permukiman informal tanpa rumah dan layanan layak. Banyak dari mereka terpaksa tinggal di daerah rentan seperti dataran rendah dan bantaran sungai.
Pada Juni lalu, banjir di Provinsi Eastern Cape menewaskan lebih dari 100 orang. Presiden Cyril Ramaphosa menyebut peristiwa itu diperparah oleh perubahan iklim, sementara pejabat daerah menyoroti buruknya infrastruktur dan perumahan di wilayah termiskin negara tersebut.
Ketahanan Iklim sebagai Strategi Pembangunan
Sekitar 3.000 orang kini terlibat dalam Water Warriors dan proyek lingkungan lain, menerima tunjangan bulanan dari program donor publik-swasta yang melibatkan pemerintah Afrika Selatan dan Kanada. “Ketika tanggal 25 tiba, Anda mulai tersenyum,” ujar relawan Ntombi Maponya mengenang momen menerima bantuan.
Upaya yang dimulai pada 2022 itu meningkat pesat dari hanya 250 peserta.
Ketahanan iklim, kata ekonom Kamerun Vera Songwe, seharusnya dipandang sebagai peluang pembangunan. “Pertumbuhan yang hijau, berkelanjutan, dan tangguh justru menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat,” ujarnya menjelang KTT G20.
(*/ai/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Donald Trump Tetapkan Arab Saudi Sebagai Sekutu Utama Non-NATOBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER




















