5 Negara Asia yang Imbau Warganya Agar Tunda Umrah

Umrah. (Foto: Adira/Mistar)
Riyadh, MISTAR.ID – Serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Sabtu (10/10/2026) berdampak ke perjalanan umrah. Sedikitnya, ada lima negara yang mengimbau warganya agar menunda umrah.
1. Malaysia
Pemerintah Malaysia meminta warganya menunda sementara perjalanan ke Arab Saudi, termasuk untuk melaksanakan ibadah umrah.
Dilansir Kompas Travel pada Kamis (14/10/2026), Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menyampaikan imbauan tersebut pada 12 Oktober 2026. Langkah itu diambil menyusul kekhawatiran terhadap situasi keamanan setelah serangan di Riyadh.
Mohamad Hasan menjelaskan, meskipun tidak ada insiden di Makkah, serangan rudal di Riyadh tetap memunculkan kekhawatiran. Karena itu, pemerintah menyarankan warga menunda sementara ibadah umrah maupun perjalanan yang tidak mendesak ke Makkah dan Madinah.
2. Singapura
Dewan Agama Islam Singapura (Majlis Ugama Islam Singapura/MUIS) juga meminta warga Muslim yang berencana melaksanakan umrah mempertimbangkan penundaan perjalanan ke Arab Saudi.
Imbauan itu menyusul pembaruan peringatan perjalanan dari Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA). MUIS meminta calon jemaah mempertimbangkan kembali rencana keberangkatan selama risiko keamanan masih tinggi.
MUIS juga berkoordinasi dengan agen perjalanan umrah untuk membantu jemaah yang terdampak menunda atau menjadwalkan ulang perjalanan jika memungkinkan.
Agen perjalanan turut didorong memberikan pilihan pengaturan yang fleksibel, mengingat jemaah yang telah memesan perjalanan berpotensi mengalami kerugian finansial akibat perubahan jadwal.
3. Indonesia
Berbeda dengan Malaysia dan Singapura, pemerintah Indonesia mengimbau jemaah umrah untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan secara khusus meminta penundaan keberangkatan.
Melalui laman resminya, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta jemaah Indonesia yang sedang berada di Arab Saudi maupun yang akan berangkat agar menghindari lokasi berpotensi rawan dan membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama di wilayah terdampak perkembangan situasi keamanan.
Bagi jemaah yang belum berangkat, Kemenhaj meminta mereka terus memantau perkembangan situasi dan informasi resmi mengenai perjalanan.
Jemaah juga diminta berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk memastikan jadwal perjalanan, status penerbangan, serta kesiapan keberangkatan.
4. Bangladesh
Gangguan penerbangan setelah serangan di Bandara Riyadh turut berdampak terhadap perjalanan jemaah umrah asal Bangladesh. Meski belum ada imbauan resmi pemerintah untuk menunda ibadah umrah, pembatalan penerbangan membuat sejumlah jemaah kesulitan melanjutkan perjalanan.
Otoritas Penerbangan Sipil Bangladesh mencatat 86 penerbangan langsung dan transit dari Dhaka terdampak hingga 14 Oktober 2026.
Jemaah umrah termasuk di antara penumpang yang mengalami gangguan tersebut. Salah satu agen perjalanan menyebut sedikitnya 200 jemaah terdampak pembatalan penerbangan.
Bahkan, 40 jemaah yang dijadwalkan kembali pada 11 Oktober melalui Riyadh Air terpaksa mengganti tiket dengan penerbangan SalamAir. Mereka harus membayar tiket dengan harga dua kali lipat.
5. Uni Emirat Arab
Dampak pembatalan penerbangan juga dirasakan calon jemaah umrah dari Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun belum ada imbauan resmi pemerintah untuk menunda perjalanan, ketidakpastian penerbangan membuat permintaan perjalanan umrah dari negara tersebut melemah.
Dikutip dari Gulf News, sejumlah agen perjalanan melaporkan penurunan permintaan dan pemesanan karena masyarakat khawatir akan terjadi pembatalan penerbangan berikutnya.
Ketidakpastian terkait situasi di Riyadh menjadi salah satu kekhawatiran utama penumpang yang merencanakan perjalanan umrah.
Padahal, Oktober biasanya menjadi awal periode ramai perjalanan umrah. Namun, situasi keamanan dan ketidakpastian penerbangan membuat calon jemaah kini lebih berhati-hati dalam menentukan jadwal keberangkatan.[]






















































