Medan Banjir, Warga: Terparah Seumur Hidup

Situasi Lingkungan IV, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun pasca banjir besar yang melanda. Sejumlah warga tampak membersihkan dan mengangkat barang-barang. (Foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Banjir yang melanda Lingkungan IV, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, sejak Kamis (27/11/2025) disebut warga sebagai yang paling parah dalam puluhan tahun terakhir.
Menurut seorang warga bernama Murni, 40 tahun, sampai hari ini, Jumat (28/11/2025) siang, air masih tergenang setinggi 50 sentimeter.
Menurutnya, debit air yang mencapai lantai dua rumahnya membuat panik dan terpaksa mengungsi saat listrik padam.
“Ini lebih parah banjirnya seumur hidup saya. Hampir seatap itu,” ujar Murni, 40 tahun, warga yang sejak kecil tinggal di kawasan itu, Jumat (28/11/2025).
Ia mengaku terpaksa mengungsi menjelang magrib setelah lantai dua rumahnya ikut terendam. “Ngeri kali lah, nggak pernah-pernahnya naik sampai begini. Kami naik perahu karet,” ucapnya.
Murni mengatakan, berbagai bantuan sudah datang sejak pagi. Namun ia baru keluar rumah menjelang maghrib, saat air mulai makin tinggi. “Bantuan pakaian belum ada datang, makanan aja. Nasi, air, gitu lah. Barang-barang pun hanyut. Lantai atas bawah kena semua,” tuturnya.
Ia menambahkan, rumah tetangganya bahkan terendam sampai jendela loteng, sementara anak-anak di sekitar masih sempat berenang di tengah banjir. “Kalau anak ya senang aja, mamanya yang stres,” katanya sembari tertawa kecil.
Pada malam itu, lanjutnya, hampir seluruh akses menuju gang telah hilang tertutup air. “Tangga masuk ke gang ini tinggal tiga lagi sisanya (yang nampak). Yang lain sudah tenggelam. Jalan raya itu pun banjir juga,” ujarnya.
Murni memperkirakan listrik baru bisa menyala paling lama sekitar dua hari lagi, mengingat semua barang-barang bahkan instalasi juga masih basah.

Seorang pemuda sedang menyantap nasi bungkus sambil berjalan di tengah banjir, Jumat (28/11/2025). (Foto: Susan/Mistar)
Sementara itu, Herman, 25 tahun, warga lainnya, menyebut kondisi banjir sangat menyulitkan aktivitas. “Parah kali. Tidur nggak bisa, mau makan pun susah,” tuturnya sambil membersihkan lantai rumahnya dari sisa-sisa lumpur.
Ia menyebut ketinggian air mencapai lebih dari dua meter, naik mulai pukul 22.00 WIB hingga mencapai puncaknya sekitar pukul 07.00 pagi. “Agak reda lah sekarang, kami berharap seterusnya begini, jangan naik lagi,” ucapnya.
Sejumlah warga dievakuasi ke Gang Simpassri karena rumah mereka benar-benar tidak bisa ditinggali. “Sebagian ada bantuan, kasih makanan dan obat. Tapi barang-barang nggak ada yang selamat. Rumah basah semua, ada yang hanyut, ada yang tenggelam,” kata Herman.
Dalam pantauan Mistar di lokasi, saat ini para warga sedang membersihkan rumah dari lumpur tebal, menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan, dan mengambil air dari sungai untuk mencuci sisa-sisa banjir. Beberapa anak-anak justru tampak riang gembira bermain dan berenang di sisa banjir. (hm20)






















