Tuesday, October 13, 2026
home_banner_first
HIBURAN

Ramai soal Rezeki dan Kerja Keras, Ini Pandangan Jerome Polin

Mistar.idSelasa, 13 Oktober 2026 pukul 11.26 WIB
ramai_soal_rezeki_dan_kerja_keras_ini_pandangan_jerome_polin

Jerome Polin. (Foto: Instagram @jeromepolin)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Kreator konten Jerome Polin menanggapi perbincangan di media sosial soal anggapan bahwa rezeki seseorang bergantung pada kerja keras. Menurut Jerome, seseorang yang hidup dalam kemiskinan atau kekurangan tidak serta-merta berarti kurang berusaha atau belum cukup bekerja keras.

"Dulu sebelum belajar tentang kemiskinan struktural, aku pernah mikir kalau orang yang hidupnya susah tuh simply karena mereka kurang kerja keras aja," tulis Jerome di Threads.

Ia memandang hal ini justru terkait dengan sistem terkait besar gaji atau upah seseorang.

"Setelah belajar, ternyata gak gitu. Banyak orang yang kerjanya keras banget, tapi masih susah. Karena memang tidak mendapat gaji/apresiasi yang besar. Guru honorer, nakes, tukang becak, dll," tulisnya.

"Ini disebabkan oleh sistemnya. Pekerjaan yang sama, di dua negara (sistem) yang berbeda, bisa punya tingkat kesejahteraan yang berbeda," lanjutnya.

Jerome memberikan contoh bagaimana Jepang, tempat ia dulu berkuliah, bisa memberikan gaji yang cukup layak, bahkan untuk mahasiswa.

"Banyak teman-temanku part time jadi staff di restoran, toko baju, kasir minimarket, dll. Tapi mereka bisa pergi ke disneyland, main ke cafe estetik hits yang pricey, bahkan bisa punya gadget terbaru," tulisnya.

"Aku jadi makin paham, bahwa kesejahteraan atau kemiskinan itu sangat bergantung pada sistem (kebijakan, politik, budaya, sosial, dll). Dua orang yang pekerjaan, kerja keras, waktu kerjanya sama, bisa sangat berbeda kondisinya bergantung sistem di mana dia hidup," imbuhnya.

Meskipun berbicara demikian, Jerome tak menolak fakta bahwa memang ada orang malas, sehingga hidupnya susah. Tapi tidak bisa menjadikan itu sebagai hal yang dipukul rata.

"Tapi bukan berarti SEMUA yang hidupnya susah, adalah orang yang malas dan tidak bekerja keras, karena balik lagi, ada sistem yang bikin mereka emang susah untuk lepas dari kelas itu," tulisnya.

Selain soal sistem, Jerome juga menyoroti bahwa seseorang tidak selalu harus disebut kurang atau belum cukup bekerja keras sampai akhirnya masih hidup dalam kemiskinan.

"Kalau kamu lahir dari keluarga orang kaya yang punya modal kayak gitu, kamu gak perlu kerja pun bakal tetep jauh lebih kaya dari yang terlahir di keluarga menengah ke bawah dan sandwich generation," tulisnya.

"Start tiap orang beda. That's why we all need empathy," tulis Jerome.

Jerome lantas menyoroti tentang tren di media sosial, di mana orang rela menurunkan gaya hidup mereka demi bisa 'cukup' dengan kondisi perekonomian saat ini. Sementara di sisi lain, ada kehidupan yang tetap mewah dengan menggunakan uang pajak rakyat.

"Yang sedih itu di saat banyak rakyat makin kesulitan, sampai harus downgrade quality of life mereka, di sisi lain banyak pejabat korup yang hidupnya nyaman," tulis Jerome.

"Yang lebih ironis lagi, pemasukan pejabat tersebut berasal dari pajak yang dipotong dari pemasukan rakyat, dan bahkan mereka gak perlu bayar pajak," lanjutnya. Menurutnya, andai pajak bisa digunakan dengan baik, kehidupan masyarakat tentu akan jauh lebih baik.

"Padahal kalo pajaknya dipake balik untuk upgrade quality of life rakyat, sangat bisa. Tapi kalo gitu, gak bisa menguntungkan diri sendiri dan kelompoknya dong... heartbreaking," tulis Jerome. (hm25/kompas.com)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN