Nicholas Saputra Soroti Bencana Ekologis di Indonesia, dari Banjir Aceh hingga Karhutla Kalimantan

Nicholas Saputra. (Foto: Kompas.com/Maulana Mahardhika)
Jakarta, MISTAR.ID - Aktor Nicholas Saputra menyampaikan pandangannya terkait bencana ekologis yang belakangan terjadi di Indonesia, mulai dari banjir yang melanda Aceh hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Nicholas membagikan foto kondisi kebakaran hutan yang diambilnya ketika mendarat di Kalimantan 18 Agustus 2026, serta foto di Tange Besi, sebulan setelah banjir bandang dan longsor.
"Keduanya adalah bencana ekologis yang sebenarnya bisa dimitigasi. Alam dan science sudah memperingatkannya," tulisnya di media sosial. "Alarmnya sering berbunyi, namun tombol snooze kerap ditekan," sambungnya.
Dalam artikel panjang yang ditulisnya di Kompas.id, Nicholas mengingat pertemuannya dengan orang di dua daerah tersebut dan ucapan mereka yang membuatnya tersadar.
Ia mengingat pertemuannya dengan seorang pemuda di Aceh sebelum banjir bandang terjadi. "Saya tahu apa yang dilakukannya salah dan mencoba meyakinkannya untuk berhenti. Namun, jawabannya sederhana: ”Kami lapar, Bang.” Beberapa waktu kemudian, saya mendengar bahwa ia ditangkap dan dipenjara," tulisnya.
Atau seorang tetua di Kalimantan yang menjaga hutan turun temurun, tapi dibenturkan dengan fakta bahwa daerahnya menjadi terbelakang karena tak ada fasilitas kesehatan maupun pendidikan.
"Masyarakat adat peladang tradisional tidak seharusnya dipaksa memilih antara mempertahankan hubungan mereka dengan alam dan memperoleh kehidupan yang lebih baik," tulis Nicholas.
Begitu juga dengan efisiensi pembukaan lahan dengan cara membakar. Menurutnya hal itu perlu dipertanyakan 'efisien bagi siapa?' karena efek dari itu ditanggung masyarakat luas. Nicholas menyebut bahwa pembuat kebijakan sering melupakan adanya 'biaya' yang harus dibayar sebagai akibat gagal menjaga alam. Hal ini karena mereka tidak tinggal di wilayah tersebut.
"Biaya ketika kita gagal menjaga alam jarang dihitung dengan serius, tetapi bukan berarti biaya itu tidak ada," tulis Nicholas.
"Ia tetap dibayar, hanya oleh orang-orang yang tidak pernah ikut memutuskan, termasuk anak-anak yang kini harus bernapas di tengah asap," tulisnya.
Dua orang berbeda dari wilayah berbeda tapi memiliki persoalan yang menurutnya sama secara garis besar.
"Mereka tinggal paling dekat dengan hutan yang disebut penting bagi kepentingan nasional bahkan global, tetapi belum tentu menikmati manfaat yang sepadan," tulisnya.
"Ketika hutan hilang, merekalah yang lebih dulu menanggung akibatnya. Ketika banjir datang, rumah, sawah, dan jalan mereka rusak. Ketika asap menyebar, mereka ikut menghirupnya," imbuhnya.
Nicholas memandang fakta ini sebagai sebuah 'ironi'. "Pembangunan tidak cukup hanya berkelanjutan. Pembangunan juga harus bermartabat," tulisnya. (hm25/kompas.com)
PREVIOUS ARTICLE
Tiket Konser Syahrini Rp35 Juta Ludes Terjual










































