Deretan Artis Indonesia yang Menulis Kisah Hidup Jadi Buku, dari Maudy Ayunda hingga Aurelie Moeremans

Aurelie Moeremans penulis buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Dunia hiburan Indonesia tak hanya diwarnai oleh karya di layar kaca dan panggung musik. Sejumlah artis Tanah Air kini memilih buku sebagai medium untuk membagikan kisah hidup mereka secara lebih jujur, personal, dan mendalam. Melalui tulisan, para figur publik ini membuka sisi lain yang jarang terlihat publik—tentang perjuangan batin, trauma, mimpi, hingga proses menerima diri sendiri.
Fenomena artis Indonesia yang menulis kisah hidup menjadi buku pun terus berkembang. Tak sedikit karya mereka yang sukses menjadi best-seller dan viral di media sosial karena kedekatan emosional yang dirasakan pembaca. Berikut deretan artis Indonesia yang menuangkan perjalanan hidupnya dalam bentuk buku.
1. Aurelie Moeremans – Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth
Nama Aurelie Moeremans menjadi sorotan setelah merilis memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dalam buku ini, Aurelie dengan berani mengungkap pengalaman traumatisnya sebagai korban grooming dan relasi tidak sehat sejak usia remaja.
Ia menuturkan kisah hubungan dengan pria yang jauh lebih dewasa, yang awalnya tampak penuh perhatian namun perlahan berubah menjadi manipulatif dan menekan secara emosional. Buku ini ditulis sebagai proses penyembuhan sekaligus bentuk keberanian merebut kembali suara yang sempat terbungkam. Sejak dirilis, Broken Strings menuai perhatian luas dan membuka diskusi publik soal perlindungan remaja dari kekerasan emosional.
2. Maudy Ayunda – Dear Tomorrow

Maudy Ayunda menulis buku Dear Tomorrow (Istimewa)
Maudy Ayunda dikenal sebagai sosok multitalenta yang juga mencintai dunia literasi. Pada 2018, ia merilis buku Dear Tomorrow, sebuah kumpulan esai reflektif, cerita personal, kutipan inspiratif, hingga playlist favorit yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Buku ini mencetak kesuksesan besar dengan penjualan yang habis hanya dalam hitungan hari. Lewat Dear Tomorrow, Maudy berbagi keresahan, mimpi, dan perjalanan pencarian jati diri yang relevan dengan generasi muda. Kesuksesan ini berlanjut dengan karya buku anak berjudul Kina and Her Fluffy Bunny.
3. Ayudia Bing Slamet – #TemanTapiMenikah

Ayudia Bing Slamet menulis #TemanTapiMenikah (Istimewa)
Bersama sang suami, Ditto Percussion, Ayudia Bing Slamet membagikan kisah cinta mereka dalam buku #TemanTapiMenikah. Buku ini mengisahkan perjalanan hubungan dari sahabat menjadi pasangan hidup, yang dituturkan dengan gaya ringan dan jujur.
Antusiasme pembaca begitu besar hingga buku ini menjadi mega best-seller dan melahirkan beberapa sekuel, termasuk #TemanTapiMenikah 2 dan Living in a Campervan. Kisah mereka bahkan diadaptasi ke layar lebar, membuktikan kuatnya daya tarik cerita personal yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
4. Natasha Rizky – Katanya Nikah Muda(h)

Natasha Rizky menulis buku Katanya Nikah Muda(h) (Istimewa)
Natasha Rizky menuangkan pengalamannya menikah di usia muda dalam buku Katanya Nikah Muda(h). Lewat buku ini, ia berusaha mematahkan stigma negatif tentang pernikahan dini dengan berbagi cerita membangun rumah tangga, menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu, dan perempuan yang tetap berkarya.
Buku ini disajikan dengan bahasa ringan dan reflektif, menjadikannya bacaan yang relevan bagi pembaca muda yang tengah mempertimbangkan kehidupan pernikahan.
5. Roy Kiyoshi – Indigo: The Story of Roy Kiyoshi

Roy Kiyoshi menulis buku Indigo: The Story of Roy Kiyoshi (Istimewa)
Roy Kiyoshi merilis buku Indigo: The Story of Roy Kiyoshi yang mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai seorang indigo. Buku ini memuat pengalaman spiritual, pergulatan batin, serta proses menerima keunikan diri di tengah sorotan publik.
Melalui kisahnya, Roy ingin menginspirasi pembaca agar berani mengenali potensi diri dan tetap percaya pada jalan hidup masing-masing. Kesuksesan buku ini mendorongnya untuk merencanakan karya lanjutan dengan perspektif yang lebih mendalam.
6. Meira Anastasia – Imperfect

Meira Anastasia menulis buku Imperfect (Istimewa)
Meira Anastasia, penulis sekaligus istri Ernest Prakasa, menulis buku Imperfect yang berangkat dari pengalaman pribadinya menghadapi komentar negatif soal penampilan fisik. Buku ini menjadi ruang refleksi tentang body positivity, penerimaan diri, dan tekanan standar kecantikan di masyarakat.
Pesan utama yang disampaikan Meira adalah bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh penilaian orang lain. Kisah ini kemudian diadaptasi menjadi film layar lebar yang meraih sambutan luas.
Buku Artis, Cerita Universal
Meski ditulis oleh figur publik, buku-buku ini tidak hanya ditujukan untuk penggemar. Tema yang diangkat—tentang luka, harapan, cinta, dan pencarian makna hidup—bersifat universal dan dekat dengan pengalaman banyak orang.
Melalui tulisan, para artis Indonesia membuktikan bahwa popularitas bukan sekadar tentang sorotan, tetapi juga tentang keberanian berbagi kisah dan memberi makna bagi pembacanya. (Liputan6)






















