21.7 C
New York
Wednesday, June 19, 2024

Sepekan ke Depan IHSG Hingga Rupiah Diproyeksikan Melemah

Medan, MISTAR.ID

Sepekan ke depan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga mata uang rupiah diproyeksikan melemah. Bahkan, selama libur panjang Idul Fitri 1445 Hijriah/2024 kinerja pasar saham di kawasan Asia terpantau bergerak sideways namun cenderung berada di zona merah pada pada perdagangan jelang penutupan akhir pekan.

Analis Keuangan Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin mengatakan dari hasil pemantauan kinerja pasar keuangan di luar untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri dalam sepekan kedepan diproyeksikan akan berada dalam rentang harga 7.130 hingga 7.250.

Sedangkan mata uang Rupiah terlihat mengalami pelemahan terhadap US Dolar dan angkanya berada di level 16.000 per US Dolar selama perayaan Idul Fitri. Jadi harga 16.000 itu masih mengindikasikan bahwa ada potensi Rupiah melemah. Namun bukan tidak mungkin rupiah justru bergerak di bawahnya, atau memang melemah.

Baca juga: Perdagangan Akhir Pekan, Rupiah, IHSG dan Emas Melemah Tipis

“Meskipun harga tersebut belum mencerminkan sisi permintaan dan persediaan atau transaksi yang terjadi di pasar uang tanah air. Karena pasar keuangan kita masih libur,” sebut Gunawan, Senin (15/4/2024).

Lanjut Gunawan, hal ini setelah rilis data inflasi AS membukukan angka yang lebih buruk dari ekspektasi pasar. Ditambah lagi, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah telah memicu kekuatiran akan tekanan pasar yang lebih besar.

“Dan belakangan ini telah memicu terjadinya kenaikan harga minyak mentah dunia ke level $86 per barelnya,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut penilaian Gunawan data inflasi Amerika Serikat (AS) yang justru lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya, telah mendorong peningkatan imbal hasil US Treasury 10 tahun di atas 4.5% yang pada akhirnya membuat US Dolar menguat dan menekan mata uang lain termasuk Rupiah.

Baca juga: IHSG dan Rupiah Melemah di Awal Pekan, Harga Emas Tembus Rekor

Dimana inflasi inti AS kembali naik menjadi 3.8% di bulan maret (YoY), atau lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya di level 3.7%. Sementara itu, laju tekanan inflasi secara keseluruhan naik menjadi 3.5% YoY, lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya 3.4%. Laju tekanan inflasi AS masih dibawah harapan Bank Sentral, ditambah lagi dengan sektor ketenagakerjaan AS yang justru membaik belakangan ini.

Ditambah lagi The FED atau Bank Sentral AS sejauh ini membutuhkan laju inflasi yang benar-benar menuju ke angka 2%. Namun realisasi inflasi AS di pekan kemarin menunjukan bahwa The FED belum sepenuhnya mendapatkan sinyal penurunan inflasi yang ditunggu. The FED kian jauh dari kemungkinan pemangkasan bunga acuan dalam waktu dekat.

“Di sisi lain, harga emas dunia selama libur panjang kemarin juga terpantau mengalami pelemahan. Harga emas melemah di kisaran $2.340 per ons troy nya. Tekanan pada harga emas juga dipicu oleh memburuknya angka inflasi. Walaupun di sisi lainnya perang Iran – Israel akan menambah resiko investasi, dan emas masih pengecualian karena diuntungkan dengan perang itu sendiri,” pungkas Dosen UISU ini. (anita/hm17)

Related Articles

Latest Articles