Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Tertekan Defisit APBN, Pengamat Sebut Beban BI Makin Berat di 2026

Mistar.idJumat, 9 Januari 2026 17.33
journalist-avatar-top
AA
rupiah_tertekan_defisit_apbn_pengamat_sebut_beban_bi_makin_berat_di_2026

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus menunjukkan tren pelemahan yang konsisten dalam lima tahun terakhir. Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai merosotnya mata uang Garuda bukan sekadar imbas sentimen eksternal, melainkan adanya masalah fundamental pada kesehatan fiskal Indonesia.

Berdasarkan data yang dipaparkan, perbandingan antara awal tahun 2020 dengan awal 2026 menunjukkan gap yang sangat lebar. Indeks Dolar (USD Index) menguat dari level 96,6 menjadi 98,93, namun di sisi lain Rupiah anjlok dari kisaran Rp13.600 menjadi Rp16.700-an per Dolar AS.

"Belakangan ini, pergerakan USD Index tidak selalu berbanding terbalik dengan Rupiah. Fiskal menjadi pemicu utamanya. Menteri Keuangan Purbaya menyebut defisit APBN 2025 mencapai 2,9 persen, nyaris menyentuh batas aman 3 persen terhadap PDB. Kondisi fiskal yang mepet ini menjadi alarm bagi stabilitas Rupiah," kata Gunawan, Jumat (9/1/2026).

Gunawan menjelaskan pemerintah kini berada dalam posisi sulit untuk menjaga defisit agar tidak melampaui ambang batas 3 persen.

Ada beberapa opsi yang bisa diambil, namun masing-masing memiliki tantangan besar di tahun 2026, seperti kemampuan pemerintah mengumpulkan setoran pajak dipertanyakan di tengah tahun yang penuh tekanan ekonomi global.

Kemudian, membutuhkan kerja keras untuk menutup kebocoran likuiditas guna menopang APBN. Selanjutnya, diharapkan mampu mengelola dividen perusahaan negara secara efisien untuk belanja pembangunan.

Mengenai surplus neraca perdagangan yang sering dibanggakan, Gunawan memberikan catatan kritis. Menurutnya, surplus saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan pemulihan ekspor, melainkan lebih disebabkan oleh penurunan kinerja impor akibat perlambatan ekonomi mitra dagang utama seperti Tiongkok.

"Surplus ini ditopang oleh penurunan impor, bukan semata karena ekspor yang memukau. Jadi surplus dagang tidak bisa sepenuhnya dijadikan landasan fundamental untuk memperbaiki kinerja Rupiah. Akibatnya Bank Indonesia (BI) akan memikul beban tambahan dalam menjaga stabilitas nilai tukar," ucapnya.

Selama tekanan pada sisi fiskal berlanjut dan pertumbuhan ekonomi sulit digenjot tanpa membebani anggaran, Gunawan memprediksi Rupiah masih berpeluang besar untuk terus melemah hingga menemukan titik keseimbangan baru terhadap Dolar AS.