Friday, October 9, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Petani Sumut Menguat, NTP September 2026 Naik Jadi 157,97 Ditopang Cabai dan Sawit

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 16.42 WIB
petani_sumut_menguat_ntp_september_2026_naik_jadi_15797_ditopang_cabai_dan_sawit_

Ilustrasi cabai rawit. (Foto: Dok. mistar.id)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (9/10/2026) — Kesejahteraan petani di perdesaan Sumatera Utara (Sumut) menguat pada penghujung kuartal III 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2026 naik 0,64 persen menjadi 157,97 poin.

Sebelumnya, NTP pada Agustus 2026 berada di angka 156,96. Kenaikan ini menjadi sinyal membaiknya daya tukar produk pertanian terhadap barang konsumsi dan biaya produksi.

Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Sumatera Utara, Dadan Supriadi, menjelaskan pertumbuhan NTP secara agregat dipicu kenaikan tiga subsektor utama. Tertinggi pada subsektor tanaman hortikultura yang naik 4,49 persen, disusul peternakan 1,08 persen, dan tanaman perkebunan rakyat 0,76 persen.

Pada periode yang sama, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di Sumut juga naik 1,24 persen menjadi 162,85 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

"Ada dua subsektor yang mengalami kontraksi, yaitu tanaman pangan yang turun 1,07 persen dan perikanan 0,68 persen. Penurunan ini dipengaruhi dinamika harga komoditas andalan di pasaran yang berdampak pada pendapatan petani di Sumut," katanya, Jumat (9/10/2026).

Dadan menjelaskan beberapa komoditas yang memberi andil terbesar terhadap kenaikan, yaitu cabai merah, cabai hijau, dan cabai rawit untuk sektor hortikultura. Sementara untuk perkebunan rakyat, yaitu kelapa sawit, kemenyan, dan karet. Kenaikan kesejahteraan peternak disumbang harga ayam ras pedaging, babi, dan kambing.

Sebaliknya, anjloknya subsektor tanaman pangan dipicu lemahnya harga gabah dan jagung, sedangkan subsektor perikanan tertekan akibat turunnya harga ikan mas, ikan kembung, dan kepiting laut.

BPS juga menyoroti komponen pengeluaran, khususnya komoditas penyumbang terbesar terhadap kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT).

"Secara serempak, beban konsumsi rumah tangga petani di semua subsektor mengalami tekanan yang sama karena kenaikan harga kebutuhan pokok. Komoditas cabai merah, daging ayam ras, dan beras berada di posisi teratas sebagai penyumbang terbesar kenaikan biaya hidup keluarga petani di perdesaan Sumut sepanjang September 2026," ujarnya.(hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN