Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Penyaluran Kredit Perbankan Meningkat di Awal 2026

Mistar.idKamis, 12 Maret 2026 pukul 12.14 WIB
penyaluran_kredit_perbankan_meningkat_di_awal_2026

Ilustrasi. (Foto: SindoNews)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Penyaluran kredit perbankan pada awal 2026 menunjukkan peningkatan. Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang tercatat 9,69 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan tersebut didorong oleh kinerja positif di berbagai jenis kredit, terutama kredit investasi.

“Kinerja positif tersebut didukung oleh pertumbuhan kredit investasi sebesar 22,38 persen (yoy), kredit konsumsi sebesar 6,58 persen (yoy), dan kredit modal kerja sebesar 4,13 persen (yoy),” ujar Perry dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026), dilansir dari Kompas.com.

Menurutnya, peningkatan penyaluran kredit juga dipengaruhi oleh membaiknya aktivitas ekonomi, kebijakan moneter dan makroprudensial BI yang lebih longgar, serta pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah.

“Pertumbuhan kredit perbankan perlu terus makin diperkuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Secara nominal, total kredit yang disalurkan perbankan pada Januari 2026 mencapai sekitar Rp 8.416,4 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 10,2 persen (yoy), meningkat dari pertumbuhan Desember 2025 yang sebesar 9,3 persen.

Jika dilihat dari penggunaannya, kredit modal kerja naik 4,8 persen (yoy). Kenaikan ini terutama ditopang sektor listrik, gas, air bersih, serta konstruksi. Sementara kredit investasi meningkat 21,9 persen (yoy) dengan kontribusi dari sektor pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, dan konstruksi.

Adapun kredit konsumsi tumbuh 7,2 persen (yoy), terutama didorong oleh peningkatan kredit multiguna yang naik 9,9 persen.

Di sektor properti, penyaluran kredit juga mencatat peningkatan menjadi 14,1 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 13,1 persen. Pertumbuhan ini terutama berasal dari kredit konstruksi yang melonjak hingga 34,4 persen.

Namun, di tengah tren positif tersebut, pembiayaan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah masih mengalami tekanan. Pada Januari 2026, kredit UMKM tercatat turun sekitar 0,5 persen (yoy), setelah sebelumnya juga menyusut 0,3 persen.

Penurunan itu terutama berasal dari kredit modal kerja UMKM yang terkontraksi 4,8 persen (yoy). Kredit untuk usaha mikro masih tumbuh sangat tipis sebesar 0,1 persen, sedangkan kredit usaha kecil dan menengah masing-masing turun 1,0 persen dan 1,1 persen.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai pemulihan kredit perbankan secara keseluruhan belum sepenuhnya tercermin pada pembiayaan bagi UMKM.

“Ini jadi masalah nih, bagaimana dari sisi konsumsi yang sudah mulai membaik, tapi satu sisi ternyata tidak sempat tumbuhkan kredit dari UMKM. Sementara UMKM ini kan sebagai penopang dari ekonomi kita. Ini yang jadi pertanyaan,” ujarnya saat media briefing di RDTX Square, Jakarta, Selasa (11/3/2026).

Menurut Huda, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena sektor UMKM memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja sekaligus menjaga pergerakan ekonomi nasional. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN