Pembeli di Medan Keberatan Rencana Penutupan Usaha Thrift oleh Pemerintah

Suasana di Pasar Sambu Kota Medan. (Foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Rencana kebijakan Menteri Keuangan untuk menutup usaha thrift (pakaian bekas impor) menuai keberatan dari para pembeli di Medan. Mereka merasa dirugikan karena akan kehilangan akses terhadap pakaian berkualitas dengan harga terjangkau.
Pembeli baju thrift, Ridho, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana tersebut karena alasan ekonomi.
“Kami biasanya beli baju di sini karena lebih terjangkau. Kalau ditutup, kami harus menabung lebih lama untuk beli pakaian baru,” kata Ridho, Minggu (16/11/2025).
Ridho mencontohkan harga jaket gunung yang dibelinya secara thrift jauh lebih murah dibandingkan produk baru.
“Jaket gunung baru bisa ratusan hingga jutaan rupiah per potong. Sementara thrift bisa saya dapatkan hanya Rp100.000 hingga Rp350.000, bisa berbeda sampai 50 persen,” ucapnya.
Meski merasa dirugikan, Ridho berharap keputusan pemerintah dilakukan demi kepentingan ekonomi nasional. Ia ingin agar kebijakan tersebut tetap memberi dampak positif bagi masyarakat, baik penjual maupun pembeli thrift.
Senada dengan Ridho, pembeli lain bernama Fira juga menyatakan keberatannya. Menurutnya, kualitas pakaian bekas impor sering kali tidak jauh berbeda dari pakaian baru, bahkan terkadang lebih bagus.
Ia mengaku lebih memilih thrift karena kualitas dan harga yang lebih sesuai kebutuhan.






















