Modal Asing Masuk Rp131 Triliun ke Obligasi Indonesia

Ilustrasi obligasi. (Foto: Emiten News)
Jakarta, MISTAR.ID – Aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia tercatat positif sebesar Rp131 triliun sepanjang 1 Januari hingga 7 Oktober 2026. Dana tersebut masuk melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan surat berharga Bank Indonesia (BI).
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, aliran modal tersebut menjadi salah satu indikator kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
"Ini adalah suatu indikator seberapa dipercayanya perekonomian kita. Pada saat sampai dengan tanggal 7 Oktober kemarin, aliran modal masuk ke Indonesia itu positif, Rp 131 triliun sepanjang tahun dan 1 Januari sampai dengan 7 Oktober," ucap Suahasil dalam sambutannya di acara Investor Daily Summit di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Menurut Suahasil, minat investor terhadap instrumen keuangan Indonesia didukung oleh kredibilitas surat berharga yang diterbitkan pemerintah dan Bank Indonesia.
"Surat Berharga Negara dan Surat Berharga dari Bank Indonesia itu cukup mendapatkan pengakuan sebagai surat berharga yang kredibel, sehingga secara neto masuk aliran modal tersebut," tuturnya, dilansir dari detikFinance.
Ia menyebut premi bunga Indonesia tercatat sekitar 188 basis poin hingga 7 Oktober 2026. Menurutnya, selisih suku bunga yang lebih kecil mencerminkan kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi makro Indonesia sekaligus membantu menjaga arus modal masuk.
Suahasil juga mengatakan premi tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang lain, yakni India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, dan Brasil.
"Dengan kita punya spread yang lebih kecil, kita tadi seperti saya sampaikan di depan, telah mampu menjaga capital inflow saat ini, baik melalui SBN, baik melalui surat berharga Bank Indonesia," terang Suahasil.
Di sisi lain, Suahasil menyoroti perpindahan modal asing ke Amerika Serikat (AS). Ia menyebut suku bunga AS telah mencapai 5,28%, yang menurutnya merupakan level tertinggi dalam sekitar 23 tahun terakhir.
Tingginya suku bunga tersebut membuat investor berpeluang memperoleh imbal hasil lebih besar di AS. Kondisi ini mendorong sebagian modal asing kembali mengalir ke negara tersebut, termasuk dari negara berkembang.
"Banyak modal kembali ke Amerika, karena suku bunganya relatif tinggi, bahkan tertinggi di dalam hampir 23 tahun terakhir. Apa yang akan terjadi kepada dunia berkembang seperti Indonesia? Modal lari keluar ke Amerika," tutur Suahasil. (Detik)
NEXT ARTICLE
Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen Hari Ini












































