Inflasi RI Januari 2026 Sebesar 3,55 Persen, Tarif Listrik Penyumbang Terbesar

Ilustrasi. (foto: freepik/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Tingkat inflasi Indonesia pada awal 2026 tercatat masih berada di atas sasaran pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan (year on year/yoy) Januari 2026 mencapai 3,55%, meski secara bulanan (month to month/mtm) terjadi deflasi sebesar 0,15%.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyebut angka tersebut telah melampaui target inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 2,5% ±1%, atau berada di kisaran 1,5% hingga 3,5%.
“Secara nasional, target inflasi kita maksimal 3,5%. Jadi angka 3,55% ini memang sudah sedikit melewati batas atas,” kata Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang digelar secara virtual, Senin (9/2/2026).
Tito menjelaskan, penyumbang inflasi terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar, dengan andil mencapai 1,72%. Dari angka tersebut, tarif listrik menyumbang 1,49%.
“Kontributor tertinggi itu sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar. Dari total 1,72%, hampir seluruhnya berasal dari tarif listrik,” ujarnya.
Meski demikian, Tito menegaskan tidak ada kebijakan kenaikan tarif listrik dari pemerintah maupun PLN. Lonjakan tersebut terjadi akibat efek perbandingan tahunan.
Pada Januari dan Februari 2025, pemerintah sempat memberikan diskon tarif listrik sebesar 50% kepada masyarakat. Ketika diskon tersebut berakhir dan tarif kembali normal, perhitungan inflasi tahunan BPS menimbulkan kesan seolah-olah terjadi kenaikan harga.
“BPS menghitung inflasi secara year on year, membandingkan Januari 2026 dengan Januari 2025. Saat itu ada diskon listrik 50%. Jadi ketika tarif kembali normal, secara metodologi tercatat sebagai inflasi,” ucap Tito.
Selain listrik, inflasi juga didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan kontribusi sekitar 1%. Di dalamnya, kenaikan harga emas perhiasan menyumbang inflasi sebesar 0,93%.
Menurut Tito, kenaikan harga emas dipicu oleh kondisi global yang tidak stabil, termasuk konflik geopolitik, sehingga banyak negara meningkatkan cadangan devisanya dalam bentuk emas.
“Situasi global yang bergejolak membuat permintaan emas dunia meningkat, dan itu berdampak pada harga,” katanya.
Tito menegaskan kenaikan inflasi bukan berasal dari sektor pangan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya memberikan andil sekitar 0,46% terhadap inflasi tahunan Januari 2026.
Artinya, kebutuhan pokok masyarakat masih relatif terjaga dan tidak menjadi pemicu utama kenaikan inflasi di awal tahun ini.
BERITA TERPOPULER























