Inflasi Masih Tinggi, The Fed Buka Peluang Naikkan Suku Bunga Lagi

Kantor The Fed. (Foto: The Voice of Asean)
Washington DC, MISTAR.ID – Federal Reserve atau The Fed masih membuka kemungkinan menaikkan kembali suku bunga acuan sebelum akhir 2026. Sikap tersebut muncul karena inflasi Amerika Serikat (AS) dinilai masih terlalu tinggi dan belum menunjukkan perkembangan yang cukup dalam beberapa bulan terakhir.
Hal itu terungkap dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026 yang dirilis Rabu (7/10/2026) waktu setempat.
Dalam rapat tersebut, seluruh anggota FOMC sepakat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen. Namun, kenaikan tersebut belum tentu menjadi yang terakhir pada tahun ini.
Sebagian besar peserta rapat menilai kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan sebelum 2026 berakhir. Meski demikian, The Fed menegaskan keputusan pada pertemuan berikutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi serta perubahan keseimbangan risiko.
Tekanan inflasi menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
The Fed memperkirakan inflasi berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) mencapai 3,8 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
Sementara itu, inflasi inti PCE yang tidak memperhitungkan perubahan harga energi dan sejumlah harga pangan diperkirakan mencapai 3,4 persen.
Dengan metode penghitungan baru yang akan diterapkan Biro Analisis Ekonomi AS (BEA), staf The Fed memperkirakan inflasi PCE Agustus mencapai 3,6 persen dan inflasi inti sebesar 3,2 persen. Kedua angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2 persen.
Dilansir dari Kompas.com, inflasi diklaim telah meningkat dibandingkan setahun sebelumnya. Kondisi tersebut dikaitkan dengan dampak tarif yang telah diterapkan sebelumnya, kenaikan biaya energi dan input akibat perkembangan geopolitik, serta meningkatnya harga sejumlah barang konsumen yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Peserta rapat juga menilai tekanan inflasi belum menunjukkan kemajuan yang cukup dalam beberapa bulan terakhir.
Perkembangan geopolitik turut menjadi perhatian karena mendorong kenaikan harga minyak mentah dan produk bahan bakar olahan. Di sisi lain, lonjakan investasi yang berkaitan dengan AI dinilai turut memberikan tekanan terhadap harga.
Dengan kondisi tersebut, sebagian besar peserta FOMC menilai peningkatan lebih lanjut terhadap kisaran suku bunga kemungkinan tepat dilakukan pada akhir tahun, meski keputusan akhirnya tetap akan ditentukan oleh perkembangan ekonomi dan risiko yang muncul. (Kompas)
PREVIOUS ARTICLE
IHSG Sempat Jatuh ke Zona Merah, Kembali Menguat 0,22 Persen

















































