Tuesday, October 13, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Anjlok 2,59 Persen, Investor Khawatir Evaluasi MSCI

Mistar.idSelasa, 13 Oktober 2026 pukul 11.06 WIB
ihsg_anjlok_259_persen_investor_khawatir_evaluasi_msci

IHSG. (Foto: Info Bank News)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,59 persen ke level 5.936,147 pada perdagangan Senin (12/10/2026). Tekanan pasar terutama dipicu kekhawatiran investor terhadap hasil evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang memicu aksi jual pada sejumlah saham grup konglomerasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan spekulasi mengenai penyesuaian bobot (rebalancing) maupun kemungkinan sanksi dari MSCI membuat investor melepas kepemilikan saham tertentu.

Selain itu, kekhawatiran mengenai klasifikasi pasar Indonesia dan transparansi investabilitas saham turut mendorong pelaku pasar mengambil sikap lebih berhati-hati.

“Di saat yang sama, apabila tekanan jual terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, dampaknya terhadap IHSG menjadi signifikan meskipun kondisi fundamental sebagian emiten masih relatif bagus,” ujar Nafan, Selasa (13/10/2026), dilansir dari Kompas.com.

Meski indeks mengalami koreksi tajam, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp81,10 miliar di pasar reguler pada Senin (12/10/2026). Namun, nilai tersebut belum cukup kuat untuk menunjukkan adanya pembalikan tren pasar.

Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing justru masih membukukan penjualan bersih sebesar Rp111,27 triliun. Sementara itu, IHSG telah terkoreksi 31,35 persen sejak awal tahun.

Tekanan terhadap pasar saham juga berlangsung bersamaan dengan pelemahan rupiah sebesar 0,08 persen ke level Rp17.913 per dolar AS. Kondisi ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY).

Nafan memperkirakan sentimen pasar pada perdagangan Selasa (13/10/2026) masih cenderung negatif dengan tingkat volatilitas tinggi. Peluang penguatan atau rebound IHSG dinilai masih terbatas.

Dari sisi teknikal, IHSG berada dalam pola gelombang koreksi atau wave (X). Indikator Stochastic K-D menunjukkan sinyal negatif, sedangkan Relative Strength Index (RSI) memberikan sinyal positif yang didukung peningkatan volume perdagangan.

Nafan memperkirakan level dukungan atau support IHSG berada pada rentang 5.851-5.647, sementara level hambatan atau resistance berada di 6.016 dan 6.180.

Level 5.851 menjadi area penting yang perlu diperhatikan. Jika tekanan jual berlanjut hingga indeks menembus level tersebut, risiko koreksi lebih dalam dapat meningkat.

Di luar sentimen domestik, investor juga mencermati perkembangan ekonomi global, terutama publikasi laporan keuangan perusahaan untuk kuartal III-2026 dan data inflasi Amerika Serikat (AS).

Pergerakan bursa AS yang bervariasi mencerminkan belum kuatnya keyakinan investor untuk mendorong penguatan pasar secara merata. Pelaku pasar masih mempertimbangkan prospek laba perusahaan, tekanan inflasi, harga energi, serta arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed.

Data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS untuk periode September dijadwalkan dirilis pada Rabu (14/10/2026). Selain itu, investor juga menantikan data indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) dan penjualan ritel.

Apabila inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi memperkirakan suku bunga akan bertahan pada level tinggi lebih lama atau higher for longer.

Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), memperkuat dolar AS, serta menambah tekanan terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang. (Kompas)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN