Tuesday, July 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Sembako di Deli Serdang Naik, Minyakita Tembus Rp22 Ribu per Liter

Mistar.idSelasa, 19 Mei 2026 pukul 18.38 WIB
harga_sembako_di_deli_serdang_naik_minyakita_tembus_rp22_ribu_per_liter

Pedagang dan pembeli bahan kebutuhan pokok di pasar tradisional Lubuk Pakam. (foto:sembiring/mistar)

news_banner

Deli Serdang, MISTAR.ID

Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok masyarakat di Kabupaten Deli Serdang mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada minyak goreng, gula pasir, dan bawang merah di sejumlah pasar tradisional maupun warung eceran di wilayah Lubuk Pakam.

Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun pada Selasa (19/5/2026), harga minyak goreng curah di sejumlah warung di Lubuk Pakam mencapai Rp21.000 per kilogram. Harga tersebut dinilai sudah mendekati harga minyak goreng bermerek yang dijual di supermarket.

Sementara itu, harga Minyakita di tingkat eceran disebut mencapai Rp22.000 per liter, meskipun pada kemasan tercantum Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.

Selain minyak goreng, sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan harga. Bawang merah dijual sekitar Rp56.000 per kilogram, naik dari harga normal yang sebelumnya berkisar Rp30 ribuan per kilogram. Harga gula pasir mencapai Rp20.000 per kilogram, sedangkan beras medium dijual sekitar Rp15.000 per kilogram.

Kondisi tersebut dikeluhkan warga, terutama masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang merasa daya beli mereka semakin tertekan akibat kenaikan harga pangan.

“Kami bukan pejabat atau pegawai pemerintah yang punya gaji tinggi. Berapapun harga kebutuhan pangan mungkin masih bisa terbeli. Tapi kami masyarakat kecil berharap pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, bisa menurunkan harga bahan pangan yang sekarang terlalu mahal seperti minyak goreng curah, gula, bawang merah, dan lainnya,” ujar Nani, warga Lubuk Pakam.

Keluhan serupa juga disampaikan para pedagang sembako yang mengaku kesulitan menjaga stabilitas harga jual karena harga dari distributor terus berubah.

“Harga pengambilan tidak pernah stabil sehingga kami tidak berani menyimpan stok banyak. Misalnya hari ini beli gula Rp17 ribu per kilogram lalu dijual Rp18 ribu, tapi saat belanja lagi harga sudah naik dengan alasan stok kosong. Mau tidak mau harga jual juga ikut naik,” kata Abeng, seorang pedagang grosir sembako di Lubuk Pakam.

Menurut para pedagang, kondisi tersebut berdampak berantai terhadap konsumen karena kenaikan harga di tingkat distributor otomatis mempengaruhi harga jual di pasar.

Sejumlah warga dan pedagang juga menilai meningkatnya kebutuhan pasokan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mempengaruhi ketersediaan barang di pasar tradisional.

Pasokan bahan pangan yang sebagian dialihkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut menyebabkan stok di pasar berkurang dan memicu kenaikan harga. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN