Harga Minyak Turun, Risiko Gangguan Pasokan Masih Membayangi

Ilustrasi minyak dunia. (Foto: Topik.id)
Jakarta, MISTAR.ID – Harga minyak dunia turun setelah Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dan sejumlah negara sepakat mempercepat pelepasan sekitar 100 juta barel stok minyak ke pasar.
Pelepasan stok tersebut dilakukan untuk menambah pasokan dan menekan harga bahan bakar yang melonjak akibat perang Iran yang berdampak terhadap pasokan global.
Dilansir dari Reuters, Kamis (8/10/2026), Prancis menjadi salah satu negara yang akan melepas stok strategisnya, dengan sekitar 10 juta barel diesel.
Brent turun 38 sen atau 0,38% menjadi US$100,20 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,16 atau 1,3% menjadi US$88,28 per barel.
Namun, penurunan harga tersebut masih dibayangi risiko gangguan pasokan. Di Amerika Serikat (AS), stok minyak mentah dan persediaan distilat tercatat turun pada pekan lalu, meski persediaan bensin meningkat.
Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) mencatat stok minyak mentah AS berkurang 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel.
Ancaman lainnya datang dari kemungkinan terbentuknya badai di Teluk Meksiko. Badai tersebut diperkirakan menjadi badai Atlantik pertama pada 2026 dan berpotensi mengganggu fasilitas minyak dan gas di kawasan tersebut.
Menurut EIA, fasilitas produksi di sepanjang Teluk Meksiko mampu menghasilkan sekitar 2,05 juta barel minyak mentah per hari pada September. Jumlah tersebut setara sekitar 15% dari total produksi minyak AS.
Jika badai berlangsung, produksi minyak di kawasan Teluk Meksiko berpotensi kehilangan sekitar 11,2 juta barel.
Risiko pasokan juga masih datang dari situasi geopolitik. Di Timur Tengah, kelompok Houthi Yaman menyerang Bandara Internasional Aden menggunakan rudal dan drone di tengah meningkatnya pertempuran antara kelompok yang bersekutu dengan Iran dan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi.
Di sisi lain, Ukraina menyerang dua fasilitas minyak Rusia. Rusia kemudian membombardir Ukraina dengan gelombang rudal dan drone yang menewaskan sedikitnya 15 orang, menurut pejabat Ukraina.
Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia serta potensi hilangnya kapasitas penyulingan di Timur Tengah menjadi faktor yang masih dapat memengaruhi kestabilan harga minyak dunia. (Reuters)
















































