Harga Ayam Ras Tembus Rp51.500 per Kg di Sumut, Biang Keroknya Terungkap

Pedagang ayam di Pasar Sukaramai Kota Medan. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Harga daging ayam ras di wilayah Sumatra Utara (Sumut) terus meroket hingga menembus angka Rp50.000 per kilogram (kg). Lonjakan harga ini dipicu oleh kombinasi antara penurunan pasokan di awal Ramadan, serta tingginya biaya produksi di tingkat peternak.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam paling tinggi tercatat di Pasar Aek Habil, Sibolga, yang menyentuh Rp51.500 per kg.
Sementara di Kota Medan, harga tertinggi terpantau di pasar kawasan Brayan dengan harga Rp46.500 per kg. Harga terendah di Sumut saat ini masih tertahan di level Rp42.000 per kg, yang ditemukan di Gunung Sitoli dan Pematangsiantar.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa fluktuasi harga ini sangat dipengaruhi oleh ritme pasokan yang tidak sebanding dengan permintaan pasar.
"Data menunjukkan pasokan daging ayam sempat naik 10 persen sepekan sebelum Ramadan. Namun, memasuki pekan pertama Ramadan, pasokan justru turun sekitar 9 persen.
Hingga jelang Idulfitri, pasokan diprediksi akan relatif stabil, sehingga sulit mengharapkan harga turun dalam waktu dekat," kata Gunawan, Rabu (25/2/2026).
Selain masalah distribusi, Gunawan menyoroti tingginya Harga Pokok Produksi (HPP) di tingkat peternak. Salah satu komponen utama, yakni jagung untuk pakan, masih dibanderol di atas Rp6.100 per kg. Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi nilai tukar Rupiah yang memengaruhi harga bahan baku pakan impor serta obat-obatan ternak.
Tingginya permintaan juga didorong oleh faktor baru, yakni kebutuhan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pemenuhan stok hari besar keagamaan.
Gunawan menegaskan bahwa masalah mahalnya daging ayam tidak bisa diselesaikan hanya oleh produsen atau peternak sendirian. Dibutuhkan intervensi pemerintah yang menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
"Kebijakan meredam harga ini tidak bisa diselesaikan sendiri oleh produsen. Negara harus hadir karena kenaikan harga ayam sangat berkorelasi dengan rantai pasok pakan, tata niaga, fluktuasi Rupiah, hingga kapasitas produksi ayam indukan atau Grand Parent Stock (GPS)," ucapnya.
Pemerintah diharapkan segera memetakan kembali pembentukan HPP dan melakukan penelusuran terhadap jalur distribusi guna memastikan harga tidak semakin liar mendekati hari raya Idulfitri mendatang. (hm20)













