Saturday, October 10, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026

Mistar.idSabtu, 10 Oktober 2026 pukul 11.01 WIB
defisit_apbn_tembus_rp319_triliun_per_september_2026

Menteri Keuangan Suahasil Nazara. (Foto: Berita Satu/Joanito De Saojoao)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp319 triliun hingga akhir September 2026 atau setara 1,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menilai posisi tersebut masih sesuai dengan rencana dan menargetkan defisit mencapai 2,8% dari PDB pada akhir tahun.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan defisit terjadi karena belanja negara lebih besar daripada pendapatan yang terkumpul. Hingga September 2026, pendapatan negara tercatat Rp2.341,5 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun.

"Defisit saat ini 1,2% dari PDB. Jadi, ini on track," ujar Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam konferensi APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/10/2026), dialnsir dari detikFinance.

Menurut Suahasil, APBN memang dirancang dalam posisi defisit agar pemerintah dapat membiayai belanja yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Ini on track karena memang APBN kita desain defisit, kenapa? Karena kita ingin belanja saat ini dengan supaya manfaat bagi masyarakat itu benar-benar maksimal dari hari ke hari," jelas Suahasil.

Pada akhir Agustus 2026, defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,9% dari PDB. Angka tersebut meningkat menjadi Rp319 triliun pada akhir September.

Penerimaan negara hingga September terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp1.607,6 triliun, tumbuh 24,1% secara tahunan. Kepabeanan dan cukai menyumbang Rp240,1 triliun atau tumbuh 8,5%, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp492,3 triliun atau tumbuh 41,7%.

Secara keseluruhan, pendapatan negara tumbuh 25,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan Rp2.660,5 triliun atau 69,2% dari target APBN sebesar Rp3.842 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 19% secara tahunan.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp2.061,3 triliun, terdiri dari belanja kementerian/lembaga sebesar Rp1.069,4 triliun dan belanja nonkementerian/lembaga Rp991,9 triliun. Sementara itu, transfer ke daerah terealisasi Rp599,2 triliun atau 82,4% dari target APBN.

Suahasil mengatakan pemerintah masih akan melanjutkan pelaksanaan anggaran hingga akhir tahun dengan target defisit 2,8% terhadap PDB.

"Hari ini akhir September 1,2% nanti kita akan menuju di akhir tahun 2,8%. Ini adalah perjalanan APBN," jelasnya.

Pembiayaan Utang Capai Rp494,3 Triliun

Selain mencatat defisit, pemerintah telah merealisasikan pembiayaan utang sebesar Rp494,3 triliun hingga September 2026. Nilai tersebut mencapai 59,4% dari target APBN sebesar Rp832,2 triliun.

Suahasil menilai realisasi pembiayaan utang masih sesuai rencana. Nilainya juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika pembiayaan utang mencapai Rp502,9 triliun atau 64,8% dari target Rp775,9 triliun.

"Pembiayaan utang terjaga on track," tutur Suahasil.

Berdasarkan instrumennya, pembiayaan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) secara neto mencapai Rp497,5 triliun atau 62,2% dari target Rp799,5 triliun. Sementara itu, pembiayaan melalui pinjaman secara neto tercatat negatif Rp3,2 triliun.

"Jadi sudah 62,2%. Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global di dunia," ujar Suahasil.

Suahasil memastikan penerbitan SBN dilakukan dengan hati-hati dan memperimbangkan kondisi pasar. Sebab, menurutnya, pemerintah juga harus melihat peluang saat ingin menerbitkan SBN.

"Karena menerbitkan SBN ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, melihat kondisi pasar, tapi juga harus oportunistik. Kalau lagi bagus pasarnya, kita terbitkan, lagi kurang bagus pasarnya, kita agak lakukan adjustment sedikit," tutur Suahasil. (Detik)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN