Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Daya Beli Petani Sumut Tergerus di Akhir Tahun, BPS: Beban Konsumsi Rumah Tangga Melonjak Tajam

Mistar.idSelasa, 10 Februari 2026 pukul 19.59 WIB
daya_beli_petani_sumut_tergerus_di_akhir_tahun_bps_beban_konsumsi_rumah_tangga_melonjak_tajam

Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin saat memberikan keterangan. (Foto: Amita/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kabar kurang sedap datang dari sektor pertanian Sumatera Utara (Sumut) pada penutupan tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumut mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan sebesar 1,82 persen pada Desember 2025.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga hasil produksi petani tidak mampu mengejar lonjakan harga kebutuhan pokok dan biaya produksi.

Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, menjelaskan bahwa NTP Sumatera Utara melandai dari angka 149,33 di bulan November menjadi 146,61 pada Desember. Faktor utama penyebab penurunan ini adalah merosotnya NTP di hampir seluruh subsektor, kecuali tanaman hortikultura yang justru menunjukkan penguatan.

"Penurunan NTP Desember 2025 disebabkan oleh turunnya NTP empat subsektor, yaitu Tanaman Pangan sebesar 1,88 persen, Tanaman Perkebunan Rakyat 2,45 persen, Peternakan 1,06 persen, dan Perikanan 0,26 persen. Hanya subsektor Tanaman Hortikultura yang mengalami kenaikan sebesar 2,72 persen," kata Misfaruddin, Selasa (10/2/2026).

Misfaruddin menyoroti fenomena kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang mencapai 2,08 persen. Kenaikan ini didominasi oleh melonjaknya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di pedesaan.

Dengan kata lain, petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan sehari-hari dibandingkan pendapatan yang mereka terima dari hasil panen.

Penurunan NTPP dipicu oleh kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 2,68 persen, sementara kenaikan harga hasil panen padi dan palawija hanya sebesar 0,23 persen. Komoditas ketela rambat menjadi andil terbesar penurunan di subsektor ini.

Subsektor perkebunan rakyat mengalami penurunan terdalam, yaitu 2,45 persen. Meski harga hasil perkebunan secara rata-rata turun 0,28 persen (terutama karet, kakao, dan kopi), biaya konsumsi petani justru melonjak 2,63 persen.

Hortikultura menjadi satu-satunya subsektor yang naik karena lonjakan harga sayur-sayuran yang mencapai 10,65 persen. Cabai merah dan mentimun menjadi "penyelamat" bagi para petani di subsektor ini.

Komoditas bumbu dapur seperti bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah kembali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kenaikan harganya menguntungkan petani hortikultura, namun di sisi lain, komoditas ini pula yang menjadi penyumbang terbesar kenaikan beban konsumsi rumah tangga bagi petani di subsektor pangan, perkebunan, peternakan, hingga perikanan.

"Komoditas penyumbang terbesar terhadap kenaikan IKRT untuk sebagian besar subsektor adalah bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah. Untuk hortikultura, bensin juga turut memberi andil besar," ucap Misfaruddin.

Penurunan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) sebesar 0,26 persen juga mempertegas bahwa efisiensi usaha tani di Sumatera Utara pada akhir tahun sedang tertekan.

Tekanan inflasi di pedesaan yang lebih tinggi daripada kenaikan harga komoditas pertanian memerlukan perhatian khusus pemerintah daerah, terutama dalam menjaga stabilitas harga barang konsumsi agar kesejahteraan petani tidak semakin merosot di awal tahun 2026.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN