UMSU Pacu Internasionalisasi, Menkomdigi: Gen Z adalah Digital Prosumer

Foto bersama usai kegiatan kuliah umum di UMSU. (foto: susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) terus memperkuat langkah menuju kampus bertaraf internasional. Rektor UMSU, Prof Agussani, mengatakan kepercayaan masyarakat terhadap kampus tersebut semakin meningkat, meski animo masuk perguruan tinggi secara nasional mengalami penurunan.
“Alhamdulillah, mahasiswa baru kita tahun ini berjumlah sekitar 4.125 orang. Ini bukti kepercayaan publik terhadap UMSU terus tumbuh,” ujarnya di Kampus UMSU, Senin (29/9/2025).
Selain jumlah mahasiswa yang stabil, UMSU juga menarik minat pelajar internasional. Tahun ini, mahasiswa asing yang mendaftar berasal dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Pakistan, Thailand, Ghana, Mali, Sudan, Nigeria, Inggris, Malaysia, hingga Kamboja dan Yaman.
“Mahasiswa asing yang belajar di UMSU terus meningkat. Ini memberi semangat bagi kami untuk mengembangkan program internasional,” tutur Agussani.
Upaya internasionalisasi kampus ini didukung keberadaan USA Education Center, sebuah pusat layanan pendidikan tinggi Amerika Serikat yang hanya ada 17 di Indonesia, dan satu-satunya di Sumatera Utara. Lembaga ini telah berdiri empat tahun di UMSU dan berfungsi sebagai fasilitator bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke Amerika.
Pencapaian tersebut diapresiasi Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) RI, Meutya Hafid, yang hadir memberi kuliah perdana bagi mahasiswa baru. Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda UMSU dalam inovasi digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Selamat atas prestasi membanggakan UMSU, meraih juara 1 Innovillage 2024, Innovate for Impact, Act for Sustainability dari PT Telkom Indonesia,” kata Meutya.
Ia menyebutkan, hal ini membuktikan bahwa mahasiswa UMSU mampu bersaing, berinovasi di level nasional.
Dalam pemaparannya, ia juga berbicara tentang bagaimana generasi muda khususnya di Sumatera Utara, untuk mampu mengoptimalkan potensi diri, memanfaatkan kecerdasan artifisial, dan juga mempercepat langkah menuju Indonesia Emas 2045.
Ia mengatakan, saat ini 229,4 juta masyarakat Indonesia atau 80,66% populasi telah terhubung dengan internet. Dari jumlah itu, 43,7% Gen Z sudah menggunakan layanan berbasis AI yang merupakan angka tertinggi dibanding generasi lain.
“Gen Z adalah digital prosumer. Artinya, bukan hanya sebagai konsumen, tapi juga produsen konten,” tuturnya.
Lebih lanjut, Gen Z kini lebih banyak diharapkan untuk menjadi produsen aktif dari kecerdasan artifisial. Gen Z tidak sekadar user dan harus menjadi motor penggerak, maka penting untuk menginvestasikan pada literasi, keterampilan hingga ruang kreasi.
Kedatangan Kementerian Komdigi, sebutnya, untuk membantu dan memberikan dorongan. Di mana selain banyak berkomunikasi, dalam literasi juga dibutuhkan saling bahu-membahu dengan institusi-institusi pendidikan.
“Dengan institusi-institusi pendidikan yang memang hari per hari memiliki mahasiswa-mahasiswi yang menjadi sumber-sumber dari penggerak, atau motor dari kemajuan dan transformasi digital di tanah air,” ucapnya. (susan/hm24)





















