Sentra Cokelat Tapsel Bangkit Lagi, Petani hingga Produk Premium Disiapkan

Ilham Perwira (Seragam Orange) didampingi Ali Wahab saat menjelaskan tentang Martabe Kakao. (Foto: Syaiful/Mistar)
Tapsel, MISTAR.ID - Harga coklat dunia pada 2025 mengalami volatilitas tinggi, mencakup rekor tertinggi awal tahun yang menembus sekitar US$11.000 per metrik ton. Indonesia berada di peringkat 5-6 pemasok coklat secara internasional. Salah satu wilayah penyumbang biji coklat tertinggi adalah Tapanuli Selatan (Tapsel).
Becermin dari data ini, Martabe Kakao kembali mengintegrasikan rantai biji coklat secara menyeluruh dari hulu ke hilir.
"Untuk Sumatera Utara (Sumut), menurut data statistik, Tapsel itu masuk 5 besar sebagai penyumbang biji Kakao, hanya saja beberapa tahun belakangan ini, makin turun," kata Supervisor Agriculture Development Agincourt Resources, Ilham Perwira, Minggu (12/7/2026).
Selain itu, Ilham mengatakan, pihaknya juga telah menyediakan rumah coklat atau pabrik mini untuk pengolahan coklat yang dapat menghasilkan beberapa jenis produk coklat.
"Coklat yang nantinya petani tanam, kemudian kita beli dan kita olah di sini. Salah satunya produk yang dibuat oleh pengelola Rumah Coklat, yaitu coklat batangan. Tidak hanya budidaya, Martabe Kakao juga memproduksi hingga menangani penjualan. Penjualan kita dari Bagasilua, kita produksi di sini, Bagasilua sebagai distributor," ujarnya.
Di tahun 2025 kemarin, lanjut Ilham, pihaknya juga bekerja sama dengan para petani di Sayur Matinggi.
"Ada dua desa di sana yang sudah kita koordinasikan dengan dinas pertanian," ujarnya.
Ilham menuturkan, saat ini, bahan baku produk Martabe Cocoa diperoleh dari berbagai wilayah di Kabupaten Tapsel.
"Ke depan, kebutuhan bahan baku tersebut ditargetkan dapat dipenuhi dari hasil panen petani binaan di Kecamatan Batang Toru," tandas Ilham.
Dilanjutkannya, pengelola Martabe Kakao telah dibekali ilmu pengetahuan tentang tanaman Kakao yang bekerja sama dengan CV. Scorpio di Payakumbuh, Sumatera Barat.
"Mulai dari budidaya, bagaimana cara memilih coklat yang baik, kemudian bagaimana cara biji coklat ini jadi bibit, cara penanganan hama dan penyakit, itulah yang dibekali kepada rekan-rekan disini sebagai penanggungjawab (Martabe Kakao)," kata Ilham kepada Mistar, Minggu (12/7/2026).
Ilham menyebut, bibit Cocoa tersebut telah didistribusikan secara menyeluruh di Kecamatan Batang Toru.
"Mulai dari Hutagodang, sampe Sianggunan dan Padang Lancat. Lokasi yang paling banyak itu kita tanami di pinggiran sungai. Tapi karena bencana banjir 25 November 2025 lalu, hancur semua. Akan tetapi tahun 2026 ini kita akan mencoba bangkit kembali dan meminta data CPCL yang baru diluar dari lahan-lahan petani yang terkena banjir lalu," ucap Ilham.
Sementara itu, Pengelola Martabe Kakao, Ali Wahab Hutapea, menambahkan, pihaknya telah mendistribusikan sebanyak 12.000 bibit Kakao di Tahun 2025.
"Itu langsung kita distribusikan ke petani, kita survei lapangannya, survei lobang tanamnya, apabila petani sudah memenuhi SOP yang kita terapkan, bibit kita berikan secara gratis. Dan nanti setelah tanam, kami dari Martabe Kakao nanti akan melakukan peninjauan serta sosialisasi tentang hama dan penyakit," kata Ali Wahab.
Ali mengatakan program yang mereka lakukan bertujuan meningkatkan produktivitas dan kualitas Kakao petani binaan, menciptakan nilai tambah melalui pengolahan Kakao menjadi produk jadi, serta meningkatkan pendapatan masyarakat dan membuka peluang usaha baru serta memperkuat identitas Tapanuli Selatan sebagai daerah penghasil Kakao berkualitas.
"Program ini dirancang untuk membangun ekosistem kakao berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, pengolahan hasil panen, hingga menghasilkan produk cokelat premium Martabe Chocolate yang memiliki nilai tambah tinggi dan daya saing pasar," katanya.
Di sektor hulu atau produksi Kakao, mencakup penyediaan bibit unggul dan rehabilitasi kebun, penerapan Good Agricultural Practices, pelatihan budidaya, pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit, serta pendampingan kelompok tani dan penguatan kelembagaan.
Untuk sektor tengah atau Pascapanen dan Pengolahan, berfokus pada peningkatan kualitas fermentasi dan pengeringan biji kakao, standarisasi mutu bahan baku, pengembangan fasilitas pengolahan kakao, serta pembelian hasil panen petani binaan dengan mekanisme yang adil dan berkelanjutan.
Terpisah, Supervisor Business Development & Analyst Agincourt Resources, Selvy Wista, menjelaskan tentang sektor hilir atau produk dan pemasaran, program ini menghasilkan berbagai varian produk Martabe Chocolate yang dikembangkan dari bahan baku kakao lokal.
Produk ini dilengkapi strategi pengembangan merek, kemasan, dan pemasaran yang mencakup retail, event, oleh-oleh khas daerah, serta platform digital.
"Melalui Martabe Cocoa, PTAR tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi petani, tetapi juga mendorong terbentuknya jaringan reseller dan distribusi yang memperluas jangkauan pasar Martabe Coklat," tandas Selvi. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
PTPN I Regional 1 Bongkar Dugaan Galian C Ilegal Berkedok Cetak Sawah di Lahan HGU Deli SerdangBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























