MBG di Asahan Bikin Heboh, Siswa SD di Pulau Rakyat Tua Diberi Alpukat Muda

Warga unboxing pokat muda di menu MBG untuk siswa SD di Asahan. (foto: istimewa/mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Asahan kembali menjadi sorotan. Kali ini perhatian tertuju pada pembagian menu kering dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Pulau Rakyat Tua yang memicu komentar orang tua siswa, karena diduga membagikan alpukat mentah atau masih terlalu muda untuk dikonsumsi.
Peristiwa tersebut mencuat setelah sebuah video unboxing paket MBG beredar luas di media sosial, Sabtu (28/2/2026). Dalam rekaman itu, terlihat isi paket makanan yang diperuntukkan bagi siswa selama tiga hari, terdiri dari masing-masing satu buah jeruk, satu apel, satu alpukat muda, tiga roti kemasan, serta dua butir telur rebus.
Sorotan utama publik tertuju pada alpukat yang dinilai belum layak konsumsi. Dalam video tersebut terdengar seorang pria mengomentari kondisi buah tersebut.
“Ini lucu, pokat pentil (muda). Pokat pentil ini ha, mencemana lah anak-anak mau makan pokat pentil seperti ini. Apa bisa dimakan ini. Kita suruh dulu orang dapurnya makan ini,” kata pria dalam video yang viral itu.
Sejumlah orang tua siswa di Pulau Rakyat Tua turut angkat bicara. Mereka mengaku bersyukur dengan adanya program MBG, namun berharap kualitas bahan makanan yang dibagikan benar-benar layak konsumsi.
Rahmah, 34 tahun, orang tua siswa sekolah dasar setempat, mengatakan anaknya kebingungan saat melihat alpukat yang masih keras dan belum matang.
“Anak saya bilang, ‘Mak, ini keras kali, tak bisa dimakan.’ Kami sebenarnya senang ada program makan bergizi gratis ini, tapi ya janganlah buah yang belum bisa dimakan dibagikan. Gak cocok, kalau mau cari untung banyak mau hari raya begini dari MBG jangan seperti ini caranya. Luar biasa kali ah,” ujarnya.
Senada dengan itu, Irwansyah, 41 tahun, orang tua lainnya, menilai pengawasan terhadap distribusi menu perlu diperketat agar tidak menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat.
“Kalau memang untuk tiga hari, harusnya benar-benar dihitung dan dipastikan layak sesuai ketentuannya. Jangan sampai anak-anak dapat makanan yang tidak bisa langsung dikonsumsi. Niatnya baik, tapi pelaksanaannya harus serius jangan mikir keuntungan pribadi saja,” katanya.
Di tengah polemik tersebut, muncul pula perhitungan asumsi nilai paket MBG yang beredar di masyarakat. Jika mengacu pada harga tertinggi di pasaran untuk buah, roti, dan telur, total nilai menu untuk tiga hari diperkirakan tidak lebih dari Rp15 ribu.
Artinya, paket tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi siswa selama tiga hari dengan porsi terbatas. Hal inilah yang memicu perdebatan soal kecukupan gizi serta kualitas bahan yang didistribusikan. Peran ahli gizi di SPPG pun dipertanyakan.
Sejumlah orang tua meminta pihak penyelenggara MBG di tingkat kecamatan melakukan evaluasi terhadap kualitas bahan pangan yang dibagikan. Mereka berharap ke depan tidak ada lagi buah mentah atau bahan yang diragukan kelayakannya masuk dalam paket makanan siswa.
Hingga berita ini diturunkan, Mistar.id berusaha mengkonfirmasi kepada Koordinator SPPG Wilayah Kabupaten Asahan, Adi Adma Arif Harahap namun ianya belum memberikan keterangan.















