Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SUMUT

Berjalan Kaki 8 KM Menembus Gelap dan Lapar Demi Sekolah, Perjuangan Anak-anak Dairi Mengejar Mimpi

Mistar.idJumat, 16 Januari 2026 pukul 14.21 WIB
berjalan_kaki_8_km_menembus_gelap_dan_lapar_demi_sekolah_perjuangan_anakanak_dairi_mengejar_mimpi

Rosinta Tamba (baju SMP) dan sejumlah anak SD foto bersama dengan wartawan Mistar. (Foto: Manru/Mistar)

news_banner

Dairi, MISTAR.ID

Puluhan anak SD dan SMP yang berasal dari Dusun Lae Mbereng I, Desa Lae Markelang, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, yang lahir dari keluarga kurang mampu, harus rela berjalan kaki sejauh 8 kilometer setiap hari untuk berangkat ke sekolah.

Kondisi miris ini disampaikan Rosinta Tamba, siswi SMP, bersama adik-adiknya yang masih duduk di bangku SD dan teman-temannya saat bertemu kru Mistar di tengah perjalanan pulang sekolah menuju rumah masing-masing, Kamis (15/1/2026).

Rosinta bercerita, ia dan anak-anak lainnya harus berangkat sejak pukul 05.00 WIB dini hari dari rumah dengan hanya bermodalkan senter sebagai penerangan. Sementara untuk pulang sekolah, mereka harus berusaha lebih cepat agar bisa tiba di kampung sekitar pukul 16.00 WIB.

Anak-anak dari kampung tersebut bersekolah di SD Negeri 034802 Lae Markelang dan SMP Negeri di Desa Pardomuan. Meski harus berjalan jauh karena kondisi ekonomi orang tua, mereka tetap memiliki cita-cita, seperti ingin menjadi guru, pendeta, dan orang sukses setelah menyelesaikan pendidikan.

“Saya bercita-cita ingin menjadi guru. Teman-teman saya ada yang ingin menjadi pendeta dan orang sukses nantinya,” kata Rosinta sambil menunjukkan senter masing-masing.

Untuk mengejar waktu agar cepat tiba di sekolah, selama ini mereka terkadang tidak sempat mandi dan hanya mencuci muka. Bahkan sering tidak sempat sarapan maupun makan siang, serta lupa membawa bekal.

Ia mengakui, meski akses jalan ke daerah mereka sebenarnya dapat dilalui kendaraan, khususnya sepeda motor, namun kondisi ekonomi membuat warga tidak mampu memilikinya. Bahkan untuk biaya kos pun mereka tidak sanggup. Sementara angkutan umum belum ada.

“Saat pulang sekolah, kami sering berhenti untuk beristirahat di tengah jalan dan terkadang memetik buah di kebun untuk mengganjal rasa lapar. Kami menenteng tas buku, melepas sepatu, dan berjalan tanpa alas kaki. Tapi kami tetap semangat,” ujar Rosinta.

Ia juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah mereka.

Pada waktu yang sama, seorang pria lanjut usia bermarga Malau yang melintas dari Dusun Lae Mbereng I menyampaikan bahwa sekitar 50 kepala keluarga (KK) di dusun tersebut harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp5 juta per KK untuk mendapatkan sambungan listrik. Sambungan tersebut dibuat secara swadaya menggunakan tiang bambu dan kayu seadanya dengan jarak puluhan kilometer.

Atas kondisi tersebut, Malau berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius, mengingat wilayah itu merupakan daerah penghasil berbagai komoditas pertanian seperti kelapa sawit, kopi, kakao, petai, durian, jengkol, jagung, dan beragam tanaman lainnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN