OpenAI Akan Sisipkan Watermark Tersembunyi Pada Teks ChatGPT

OpenAI - ChatGPT. (Foto: Koma.id)
Jakarta, MISTAR.ID – OpenAI akan menyisipkan watermark tersembunyi pada teks yang dihasilkan ChatGPT dan tools pemrograman Codex untuk pengguna di Uni Eropa. Namun, perusahaan mengakui tanda tersebut dapat lebih sulit dideteksi setelah sebagian kata pada teks diganti.
Dalam uji internal OpenAI, tingkat deteksi watermark pada teks sepanjang 400 token turun dari sekitar 92% menjadi 66% setelah 10% kata diganti dengan sinonim.
Ketika 25% kata diganti, tingkat deteksi bahkan merosot menjadi sekitar 17%.
Rencana penerapan watermark tersebut diumumkan OpenAI melalui blog resminya, Kamis (8/10/2026). Kebijakan ini dilakukan untuk memenuhi aturan transparansi dalam EU AI Act yang mulai berlaku pada 2 Agustus 2026.
Aturan tersebut mewajibkan perusahaan AI menandai konten buatan AI dengan cara yang dapat dikenali oleh sistem lain. ChatGPT dan Codex yang sudah dirilis sebelum aturan berlaku mendapat tenggat hingga 2 Desember 2026 untuk memenuhi ketentuan tersebut.
OpenAI akan menggulirkan watermark secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan kepada pengguna ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di seluruh paket langganan. Untuk saat ini, penerapannya hanya berlaku di Uni Eropa dan belum mencakup pengguna ChatGPT di Indonesia.
Tidak Ada Simbol atau Karakter Tersembunyi
Watermark yang disebut textGrain tersebut bekerja dengan memengaruhi pilihan kata yang digunakan model ketika menyusun jawaban. OpenAI menyatakan tidak ada logo, simbol, maupun karakter tersembunyi yang ditambahkan ke dalam teks.
Pola pilihan kata itu tidak terlihat oleh pembaca, tetapi dapat dikenali oleh alat pendeteksi khusus.
Menurut OpenAI, watermark tidak mengungkap identitas pembuat teks, akun yang digunakan, prompt, maupun isi percakapan. Tanda tersebut juga tidak digunakan untuk mengukur seberapa besar kontribusi manusia atau membuktikan kepemilikan dan kebenaran suatu teks.
Meski demikian, OpenAI mengakui sistem pendeteksinya tidak selalu akurat. Teks buatan AI dapat lolos deteksi, sementara tulisan manusia juga bisa keliru ditandai sebagai teks AI.
Kesalahan tersebut terutama dapat terjadi pada teks pendek, teks hasil terjemahan, serta jawaban matematika yang memiliki pilihan kata lebih terbatas.
"Tidak terdeteksinya watermark tidak membuktikan bahwa teks itu ditulis manusia," tulis OpenAI.
Untuk sementara, akses terhadap alat pendeteksi watermark hanya diberikan kepada peneliti dan organisasi ahli yang telah melalui proses pendaftaran dan mendapat persetujuan OpenAI.[]
PREVIOUS ARTICLE
Harga iPhone 18 Pro Max di Indonesia Tembus Rp58 Juta, Ini Bedanya dengan Generasi Sebelumnya














































