Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
OPINI

Venezuela, Riwayatmu Kini

Mistar.idKamis, 8 Januari 2026 pukul 13.43 WIB
venezuela_riwayatmu_kini

Seorang pendukung Nicolas Maduro, mengibarkan bendera Venezuela selama demonstrasi untuk menonton sidang Majelis Nasional di layar besar di Caracas. (Foto: AFP)

news_banner

Oleh: Syahrial Siregar

Dunia dikejutkan dengan operasi senyap yang dilakukan Amerika Serikat. Negara Adidaya itu secara terang-terangan menangkap presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada awal Januari 2026.

Lantas, apa yang melatarbelakangi Donald Trump mengerahkan pasukan khusus untuk menangkap Maduro. Demokrasi? Narkoba? Bukan! Ini soal harta 303 miliar barel.

Kita ibaratkan ada orang tinggal di gubuk reyot, berdiri di atas tanah yang di dalamnya berisi emas batangan. Tapi mereka hidup miskin, karena gak tau cara menggali tanahnya. Itulah Venezuela.

Negara yang berada di ujung utara Amerika Selatan itu punya cadangan minyak terbesar di dunia, 303 miliar barel. Ironisnya, 82 persen rakyat di sana hidup dalam kemiskinan extrem.

Dulu Venezuela itu sultan. Kalau belanja ke Amerika boros banget. Bahkan, istilah 'Dame Bos' (kasih dua) ngetren di Miami, karena orang Venezuela kalau belanja gak pernah cuma beli satu.

Duit dari minyak mengalir deras seperti curah hujan di Berastagi, daerah pegunungan Sumatera Utara. Gaya hidup mewah, segalanya harus impor. Tapi mereka lupa tanam padi, buka pabrik. Semua hanya bergantung pada satu sumber, minyak bumi.

Tahun 1999 Juru Selamat Datang

Hugo Chaves muncul saat rakyat muak dengan korupsi. Dia menjelma menjadi Robin Hood, ambil dari 'si kaya' minyak, dibagikan ke 'si miskin'. Sejak saat itu, kemiskinan turun drastis.

Chaves memang gila. Dia ambil kebijakan menasionalisasi aset minyak asing. Perusahaan minyak Amerika seperti Exxon Mobil dan Conocco Phillip, diusir karena menolak tunduk.

Bahkan, tahun 2006 di podium PBB, Chavez terang-terangan menyebut Presiden AS, George Bush yang berkuasa saat itu, sebagai Iblis. Sejak saat itu pula Chavez menjadi ikon anti-imprialisme Amerika Latin.

Sayang, Chavez bikin blunder terbesar. Dia pecat ribuan ahli minyak yang mogok dan menggantinya dengan loyalis poltiik, yang gak ngerti cara ngebor minyak. Alhasil, produksi turun, mesin uang mulai rusak.

Era Maduro

Maduro naik setelah kematian Chavez, mewarisi ekonomi yang sudah rapuh. Tahun 2014-2016 harga minyak anjlok. Cadangan devisa habis. Hiperinflasi dan barang-barang pokok menghilang. Chaos!

Protes besar-besaran pecah. Maduro menghadapinya dengan cara represi. Gak cuma itu, pria yang lahir 23 November 1962 tersebut melakukan konsolidasi kekuasaan secara ekstrem.

Presiden ke-65 Venezuela itu juga membubarkan parlemen yang dikuasai oposisi, kemudian bentuk majelis konstituante yang pro-rezim. Pemilu 2018 diklaim curang, memicu krisis legitimasi internasional.

Maduro bukan Chavez, tapi punya nyawa kucing. Menteri Luar Negeri era 2006 hingga 2013 dan sebagai Wakil Presiden Venezuela dari tahun 2012 sampai 2013 itu juga lolos dari serangan drone 2018, kudeta Guaido (2019), termasuk invasi tentara bayaran yang semuanya gagal total.

Narasi dunia ke dia pun sukses. "Kami adalah benteng terkahir melawan Imprialisme Amerika", kalimat yang menggema di penjuru Venezuela kala itu.

Penangkapan Maduro

Selama berbulan-bulan intelijen AS memantau gerak-gerik Maduro. Sebuah tim kecil, termasuk informan AS di dalam pemerintahan Venezuela, telah mengamati di mana Maduro tidur, apa yang dia makan, apa yang dia kenakan, dan bahkan, menurut para pejabat militer tinggi, 'hewan peliharaannya'.

Kemudian, pada awal Desember, sebuah misi yang direncanakan dan diberi nama "Operasi Absolute Resolve" diselesaikan.

Kongres tidak diberitahu atau dikonsultasikan sebelumnya. Para pejabat militer tinggi menunggu kondisi optimal untuk meluncurkan serangan. Mereka ingin memaksimalkan unsur kejutan, hingga akhirnya Maduro berhasil ditangkap.

Trump memuji kekuatan militernya dan menyebut "itu sungguh menakjubkan, pekerjaan luar biasa yang dilakukan orang-orang ini."

PBB bereaksi keras. mengingatkan hal itu jelas "merusak prinsip dasar hukum internasional".

Juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani, mengatakan negara tidak boleh mengancam atau menggunakan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara mana pun.

Maduro Diadili

Pasca ditangkap, Maduro yang kini berstatus Mantan Presiden Venezuela dihadapkan pada proses hukum di New York, Amerika Serikat. Di hadapan majelis hakim, Maduro membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Persidangan Maduro digelar, Senin (5/1/2026) waktu setempat. Saat dibawa menuju pengadilan, Maduro mengenakan borgol dan berada di bawah pengawalan ketat aparat penegak hukum bersenjata. Ia diangkut menggunakan kendaraan lapis baja dan diterbangkan ke New York dengan helikopter.

Dalam persidangan tersebut, Maduro menyampaikan pembelaannya. Pria berusia 63 tahun itu dengan tegas menyatakan dirinya tidak bersalah atas seluruh dakwaan yang diajukan.

Keterlibatan Washington Bukan Jaminan

Bayang-bayang ketidakpastian masih menyelimuti arah perekonomian Venezuela. Harapan kebangkitan ekonomi belum menemukan pijakan yang kokoh, meski Amerika Serikat mulai mengambil peran signifikan dalam pengelolaan negara kaya minyak yang ada di sana.

Masuknya AS ke ruang manajerial negara tersebut masih menyisakan banyak tanda tanya.

Konsep pengelolaan negara yang diklaim AS membawa perbaikan belum disertai kejelasan soal akuntabilitas dan arah pembagian manfaat ekonomi. Padahal, sektor minyak dan gas penopang utama yang menyumbang sekitar 90 persen pemasukan negara kini berada di titik paling krusial.

Pertanyaannya, apakah hasil pengelolaan ladang minyak Venezuela benar-benar akan dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat, atau justru mengalir ke perusahaan-perusahaan energi asal Amerika?

Kita diingatkan untuk tidak melupakan tekanan ekonomi itu ikut menghancurkan fondasi keuangan Venezuela sebelum narasi penyelamatan dikumandangkan.

Di sisi lain, kelelahan sosial akibat pemerintahan Presiden Nicolás Maduro yang dinilai represif dan tidak efektif membuat sebagian warga Venezuela melihat kehadiran AS sebagai secercah harapan baru.

Bagi sebagian masyarakat Venezuela kondisi ekonomi di era Maduro sudah begitu buruk, sehingga intervensi asing dianggap sebagai jalan keluar.

Espektasi tersebut berpotensi berbenturan dengan realitas politik global. Hingga kini, belum ada kepastian bahwa kepentingan rakyat Venezuela akan ditempatkan di atas agenda strategis atau kebutuhan energi Amerika Serikat. **

Penulis adalah Redaktur Online Mistar**




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN