Monday, July 20, 2026
home_banner_first
NASIONAL

BRIN Perkirakan Idulfitri 1447 H Berpotensi Beda Antara Pemerintah dan Muhammadiyah

Mistar.idJumat, 6 Maret 2026 pukul 13.24 WIB
brin_perkirakan_idulfitri_1447_h_berpotensi_beda_antara_pemerintah_dan_muhammadiyah

Ilustrasi memantau hilal. (Foto: Suara Global/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memperkirakan ada kemungkinan perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Indonesia antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam.

Perkiraan itu muncul setelah Muhammadiyah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat (20/3/2026). Penetapan tersebut menggunakan metode hisab dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia masih menunggu hasil sidang isbat untuk menentukan awal Syawal. Sidang tersebut biasanya dilaksanakan pada 29 Ramadan.

Thomas menilai kemungkinan perbedaan penentuan hari raya cukup terbuka karena posisi hilal pada saat sidang isbat diperkirakan belum memenuhi syarat pengamatan. Sidang isbat sendiri diperkirakan berlangsung pada 19 Maret 2026.

“Pada saat magrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026,” ujar Thomas dalam jurnal pribadinya.

Ia menjelaskan, pemerintah Indonesia menggunakan standar yang disepakati negara-negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dalam menentukan visibilitas hilal.

Namun jika menggunakan standar yang dipakai di Turki, hasilnya bisa berbeda.

“Maka menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 = 20 Maret 2026,” ujarnya.

Ketika dimintai konfirmasi lebih lanjut, Thomas menilai perbedaan penetapan Idulfitri antara pemerintah dan Muhammadiyah berpotensi terjadi dan bahkan bisa semakin sering di masa mendatang.

“Ya. Dan akan semakin sering terjadi perbedaan,” kata Thomas, dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, perbedaan tersebut bukan semata-mata karena metode hisab dan rukyat yang berbeda, melainkan karena kriteria yang dipakai dalam menentukan kemungkinan terlihatnya hilal.

Ia menjelaskan Muhammadiyah kini menggunakan sistem KHGT yang merujuk pada pendekatan global, sebagaimana yang juga digunakan dalam sistem kalender di Turki.

“Penggunaan KHGT yang secara resmi akan dimulai pada 1447/2025 berpotensi makin sering terjadi perbedaan awal Ramadan, Syawal, atau Idul Fitri,” ucapnya.

Kajian lain menggunakan aplikasi Hisab Astronomis yang dikembangkan oleh Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam juga menunjukkan kemungkinan perbedaan Idulfitri dapat terjadi hingga tahun 2029 atau sekitar 1450 Hijriah. Meski begitu, awal Ramadan pada periode tersebut diperkirakan tetap sama.

Perbedaan penetapan hari raya ini diperkirakan akan terus berulang selama kriteria yang digunakan pemerintah dan Muhammadiyah tidak mengalami perubahan.

Sebelumnya, Muhammadiyah juga telah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan itu tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang diterbitkan pada Oktober 2025 oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Secara astronomis, ijtimak menjelang Ramadan diperkirakan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC. Pada saat matahari terbenam di hari yang sama, posisi hilal diperkirakan masih belum memenuhi kriteria visibilitas di wilayah mana pun. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN