Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Pakar Kanada: Drone Iran Bisa Jadi Ancaman Serius bagi Kapal Induk AS

Mistar.idRabu, 28 Januari 2026 20.49
journalist-avatar-top
pakar_kanada_drone_iran_bisa_jadi_ancaman_serius_bagi_kapal_induk_as

Ilustrasi drone Iran (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pakar sistem drone asal Kanada, Cameron Chell, memperingatkan bahwa drone-drone Iran berpotensi menjadi ancaman serius bagi kapal induk Amerika Serikat.

Chell, CEO sekaligus pendiri perusahaan drone Dragonfly, menekankan bahwa strategi Iran menggunakan kawanan drone dalam jumlah besar dan waktu berdekatan bisa melumpuhkan pertahanan tradisional AS.

“Drone-drone ini memberi Iran cara yang sangat kredibel untuk mengancam kapal-kapal permukaan,” ujar Chell. Ia menambahkan bahwa kapal AS berukuran besar dan bergerak lambat, sehingga mudah menjadi target radar drone.

Strategi Iran dan Keunggulan Drone

Menurut Chell, serangan drone Iran dirancang untuk menciptakan efek jenuh pada sistem pertahanan AS. Dengan ratusan drone yang diluncurkan dalam waktu singkat, kemungkinan beberapa berhasil menembus pertahanan sangat tinggi.

“Jika ratusan drone diluncurkan dalam waktu singkat, hampir pasti beberapa di antaranya akan berhasil,” kata Chell. Drone Iran juga relatif berbiaya rendah, sehingga pengerahan massal tidak merugikan Teheran.

Ketegangan AS-Iran Meningkat

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak beberapa waktu terakhir, disertai kekhawatiran konflik yang melibatkan Israel. Washington sempat menyinggung kemungkinan serangan terhadap Iran sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap demonstran.

Iran diguncang demonstrasi besar sejak 28 Desember 2025 akibat krisis ekonomi, yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang menurut data pemerintah.

Kesiapan Militer AS dan Iran

Pada Senin (26/1/2026), kelompok tempur USS Abraham Lincoln dilaporkan tiba di Timur Tengah, didampingi beberapa kapal perusak berpeluru kendali. Sementara itu, skuadron F-15E Strike Eagle juga dikirim untuk mendukung operasi militer AS di wilayah tersebut.

Iran menyatakan akan membalas setiap serangan terhadap negaranya, sementara milisi sekutu di Timur Tengah siap mempertahankan Teheran. Pada Selasa (27/1/2026), Iran memulai latihan militer di wilayah udara Selat Hormuz, yang berlangsung hingga 29 Januari. AS juga mengumumkan rencana latihan udara besar-besaran di wilayah ini, meski detail lokasi dan waktunya belum diungkap.

Situasi ini menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah tetap menjadi titik panas geopolitik, dengan potensi konflik militer antara kekuatan besar dunia semakin meningkat.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN