Iran Tuntut Kompensasi Rp4.625 Triliun di Tengah Gencatan Senjata Dua Pekan

Jembatan yang menghubungkan Karaj dan ibu kota Iran, Teheran, runtuh dibombardir serangan AS. (Foto: Tangkapan layar X @OSINTdefender)
Teheran, MISTAR.ID
Iran menuntut kompensasi besar atas kerusakan akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, di tengah gencatan senjata dua pekan yang berlaku sejak Selasa (7/4/2026).
Pemerintah Iran memperkirakan total kerugian perang mencapai sekitar 270 miliar dolar AS atau setara Rp4.625 triliun sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.
Tuntutan tersebut disampaikan secara terbuka oleh Teheran, termasuk melalui perwakilannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Iran bahkan menyebut lima negara di kawasan turut bertanggung jawab karena wilayahnya diduga digunakan sebagai basis peluncuran serangan.
Selain itu, Iran mengusulkan skema kompensasi melalui pengaturan di Selat Hormuz, yang memungkinkan penerapan pajak terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan estimasi kerugian mencakup dampak langsung dan tidak langsung. Ia menegaskan isu kompensasi telah dibahas dalam perundingan terbaru antara Teheran dan Washington di Pakistan, dan akan kembali menjadi agenda utama pada pembicaraan selanjutnya.
Pemerintah Iran mengakui kerusakan akibat serangan sangat luas dan menyasar berbagai sektor vital, mulai dari fasilitas minyak dan gas, perusahaan petrokimia, hingga pabrik baja dan aluminium. Kompleks militer, serta infrastruktur sipil seperti jembatan, pelabuhan, jaringan kereta api, universitas, pusat riset, pembangkit listrik, dan fasilitas desalinasi air juga mengalami kerusakan signifikan.
Selain itu, banyak rumah warga, sekolah, dan rumah sakit dilaporkan hancur atau rusak berat. Pemerintah memperkirakan proses pemulihan akan memakan waktu bertahun-tahun.
Dalam pernyataan terpisah, Mohajerani mengakui pemerintah tidak memiliki kemampuan finansial untuk memberikan ganti rugi kepada warga sipil yang terdampak. Ia menyebut keterbatasan anggaran akibat “realitas ekonomi yang ada”.
Dampak konflik juga dirasakan di sektor penerbangan. Sekretaris Asosiasi Maskapai Iran, Maghsoud Asadi Samani, menyebut 60 pesawat sipil tidak lagi dapat beroperasi, termasuk 20 yang hancur total. Saat ini, Iran hanya memiliki sekitar 160 pesawat penumpang aktif, sebagian besar berusia tua dan sulit dirawat karena keterbatasan suku cadang akibat sanksi.
Ia menambahkan, maskapai mengalami kerugian lebih dari 190 juta dolar AS selama 40 hari konflik, termasuk kehilangan momentum pendapatan saat libur Nowruz.
Sejumlah bandara internasional di Teheran, Tabriz, Urmia, dan Khorramabad juga dilaporkan mengalami kerusakan berat pada landasan, menara kontrol, dan hanggar.
Di sisi lain, kebijakan pembatasan internet yang diberlakukan pemerintah turut memperburuk kondisi ekonomi. Ketua komisi di Kamar Dagang Iran, Afshin Kolahi, menyebut kebijakan tersebut menyebabkan kerugian hingga 80 juta dolar AS per hari.
Pemerintah menyatakan kebijakan itu berada di bawah kewenangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Saat ini, Iran mulai mendorong sistem internet berlapis, di mana hanya kelompok tertentu yang mendapat akses global melalui layanan khusus.
Meski menghadapi tekanan besar, Iran menegaskan tidak akan melunak dalam perundingan dengan Amerika Serikat, termasuk terkait program pengayaan nuklir.
Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, bahkan menolak perpanjangan gencatan senjata. Ia menyatakan langkah tersebut hanya akan memberi waktu bagi pihak lawan untuk memperkuat posisi militer.
“Iran harus diakui haknya, termasuk kendali atas Selat Hormuz, atau kembali ke perang,” ujarnya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Serigala Lepas dari Kebun Binatang di Korea Selatan, Dilakukan Perburuan Besar-besaranNEXT ARTICLE
China Desak Iran Buka Kembali Selat Hormuz


















