Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Puncaki Box Office Harian, Apa Makna Rephaim dalam Film?

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Puncaki Box Office Harian, Apa Makna Rephaim dalam Film? (foto ilustrasi:imdb/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (11/10/2026) — Baru dua hari tayang, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah langsung mencuri perhatian di box office Indonesia. Sekuel film horor religi Kuasa Gelap (2024) ini mencatat lebih dari 310 ribu penonton hingga 10 Oktober 2026. Namun, bukan hanya teror eksorsisme yang menjadi daya tariknya. Kehadiran entitas kuno bernama Rephaim dan masa lalu kelam Romo Rendra turut memperkuat konflik cerita.
Data Cinepoint mencatat film ini meraih 176.530 penonton kumulatif per 9 Oktober 2026, kemudian meningkat menjadi 310.476 penonton pada 10 Oktober 2026. Pada hari kedua, film tersebut juga tercatat berada di posisi pertama box office harian.
Pencapaian awal ini membuka peluang bagi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah untuk mengikuti jejak film pertamanya yang meraih lebih dari 1,4 juta penonton. Meski demikian, keberhasilan menyamai angka tersebut masih bergantung pada daya tahan penonton dalam beberapa pekan mendatang.
Rephaim, Entitas Kuno yang Mengancam Daniel
Salah satu daya tarik utama Kuasa Gelap: Perjanjian Darah adalah Rephaim, entitas kuno yang menjadi ancaman baru dalam cerita. Materi resmi film mengaitkan sosok ini dengan Fallen Angels atau malaikat jatuh, yang dalam cerita berhubungan dengan pencarian manusia sebagai pengikut melalui perjanjian berbahaya.
Daniel, karakter yang diperankan Venly Arauna, menjadi pusat teror yang harus dihadapi Romo Rendra dan Romo Thomas.
Nama Rephaim sendiri memiliki latar dalam tradisi teks Alkitab. Istilah tersebut muncul dalam konteks kelompok perkasa pada masa kuno dan, dalam sejumlah bagian teks, dikaitkan dengan arwah orang mati. Namun, penggambaran Rephaim dalam film merupakan adaptasi fiksi, bukan representasi tunggal dari konsep keagamaan tersebut.
Kehadiran Daniel membuat ancaman supranatural terasa lebih personal. Teror tidak hanya muncul melalui adegan kerasukan, tetapi juga melalui penderitaan karakter dan rahasia keluarga yang perlahan terungkap.
Masa Lalu Romo Rendra Kembali Menghantui
Di balik ancaman Rephaim, konflik personal Romo Rendra menjadi penggerak penting cerita. Karakter yang diperankan Lukman Sardi ini kembali berhadapan dengan Halim, sahabat lamanya sekaligus ayah Daniel.
Hubungan keduanya menyimpan luka masa lalu dan rasa bersalah yang belum terselesaikan. Ketika Daniel membutuhkan pertolongan, Rendra harus menghadapi kembali persoalan yang selama ini membebani dirinya. Situasi semakin rumit karena Halim menolak pandangan bahwa putranya mengalami kerasukan.
Sementara itu, Romo Thomas yang diperankan Jerome Kurnia berusaha mempertahankan keyakinannya di tengah situasi yang semakin genting.
Berbeda dari horor yang hanya mengandalkan kejutan, sekuel ini memberikan ruang lebih besar bagi drama keluarga dan pergulatan batin. Konflik tersebut menempatkan Rendra dalam dilema: membantu orang lain menghadapi kegelapan sekaligus berdamai dengan kesalahan masa lalunya sendiri.
IMAX dan Format Premium Perkuat Teror
Ambisi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga terlihat dari skala produksi dan pilihan format penayangannya. Film ini hadir dalam format IMAX, sementara sejumlah laporan menyebut ketersediaan format 4DX dan Magnify 8 di jaringan bioskop tertentu.
Layar besar IMAX dapat memperkuat detail sinematografi dan komposisi visual, sedangkan format berbasis efek gerak atau getaran menawarkan sensasi fisik tambahan, bergantung pada teknologi yang tersedia di masing-masing bioskop.
Dalam film horor, pengalaman menonton tidak hanya ditentukan oleh gambar. Desain suara, pencahayaan, pergerakan kamera, dan jeda sebelum kemunculan ancaman turut membangun ketegangan.
Namun, teknologi premium bukan jaminan sebuah film menjadi lebih menakutkan. Kekuatan atmosfer tetap bergantung pada kemampuan cerita membangun rasa takut dan membuat penonton terikat dengan karakter.
Perjanjian Darah, Ambisi, dan Harga Sebuah Pilihan
Di balik eksorsisme Katolik dan teror supranatural, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menawarkan tema tentang ambisi, tanggung jawab, dan konsekuensi pilihan manusia.
Perjanjian darah dalam cerita dapat dibaca sebagai metafora transaksi moral: keinginan memperoleh sesuatu tanpa mempertimbangkan harga yang harus dibayar. Dampaknya tidak berhenti pada orang yang membuat keputusan, tetapi juga dapat merembet kepada keluarga dan orang-orang terdekat.
Konflik Daniel dan pergulatan Romo Rendra memperluas pertanyaan tersebut. Sejauh mana seseorang harus menanggung akibat kesalahan masa lalu? Bisakah pengampunan memulihkan hubungan yang telah rusak? Dan bagaimana iman bertahan ketika seseorang dihadapkan pada rasa bersalah serta penderitaan?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuka ruang untuk membahas representasi eksorsisme dan iman dalam horor populer, dengan tetap membedakan dramatisasi film dari ajaran resmi agama.
Mampukah Menyamai Film Pertama?
Dengan 310.476 penonton kumulatif hingga 10 Oktober 2026, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah telah mengumpulkan sekitar 22 persen dari tolok ukur 1,4 juta penonton film pertamanya.
Angka tersebut menunjukkan awal penayangan yang menjanjikan, tetapi belum cukup untuk memastikan pencapaian akhirnya. Perkembangan jumlah penonton pada hari kerja dan pekan-pekan berikutnya akan menjadi indikator penting untuk mengukur daya tahan film di bioskop.
Melalui antagonis baru, konflik emosional yang lebih kuat, dan penayangan dalam format premium, sekuel ini memperluas dunia horor Kuasa Gelap. Pada akhirnya, daya tariknya bukan hanya terletak pada pertarungan melawan entitas jahat, melainkan juga pada pertanyaan tentang rasa bersalah, iman, dan harga yang harus dibayar atas pilihan manusia.
(cinepoint/paragonpicture/lsf/antara/liputan6/biblegateaway/*/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
George Clooney Kumpulkan Bintang Hollywood di Albie Awards 2026BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER

















































