OJK Siap Luncurkan Pintar Reksadana, Solusi Investasi Disiplin untuk Anak Muda

Manajer Senior Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, Adynitra Ananta. (Foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pelaku industri pasar modal bersiap meluncurkan program nasional bertajuk “Pintar Reksadana” pada 27 April 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI).
Langkah ini diambil sebagai strategi untuk merespons pesatnya pertumbuhan investor muda sekaligus memberikan solusi atas rendahnya kedisiplinan investasi di masyarakat.
Manajer Senior Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, Adynitra Ananta, menjelaskan program ini mengusung konsep investasi terencana dan berkala.
Melalui mekanisme dollar-cost averaging (DCA) dengan fitur autodebet, masyarakat didorong menyisihkan penghasilan secara konsisten tanpa harus khawatir menentukan waktu terbaik untuk masuk ke pasar.
Baca Juga: OJK Sebut Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Sumut Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
“OJK merencanakan peluncuran Program Nasional Pintar Reksadana bersamaan dengan Pekan Reksadana pada 27 April di Main Hall Bursa Efek Indonesia. Strategi DCA ini mendorong investasi disiplin melalui setoran bulanan otomatis, sehingga mengurangi risiko akibat penentuan waktu pembelian,” ujar Ananta, Selasa (14/4/2026).
Data OJK menunjukkan jumlah investor pasar modal telah mencapai 21 juta orang hingga awal 2026. Meski demikian, angka tersebut baru sekitar 10 persen dari total populasi usia produktif di Indonesia.
Mayoritas investor saat ini didominasi generasi muda di bawah usia 30 tahun. Untuk itu, program ini menghadirkan segmen khusus bertajuk “Pintar Reksadana Si Muda Investasiku” yang menyasar pemuda usia 18 hingga 20 tahun, dengan fitur bebas biaya transaksi melalui bank mitra.
Associate Director Sales Marketing PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Endang Cahyani, menilai hambatan utama masyarakat dalam berinvestasi bukan hanya soal modal, tetapi juga literasi dan ketakutan terhadap risiko.
Menurutnya, masih banyak anggapan bahwa investasi membutuhkan dana besar, padahal kini investasi reksadana dapat dimulai dari nominal terjangkau.
“Saat ini investor reksadana baru sekitar 21 juta orang dari total 287 juta penduduk. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Banyak yang belum memahami investasi, takut terhadap risiko, serta menganggap perlu modal besar, padahal reksadana bisa dimulai dari Rp10.000,” ujarnya.
Sementara itu, Team Leader PT Panin Asset Management, Clara Vlorentina, menekankan pentingnya mengubah kebiasaan konsumtif menjadi kebiasaan berinvestasi.
Ia menyoroti fenomena “dompet bocor” di kalangan milenial dan Gen Z yang cenderung menghabiskan uang untuk kebutuhan emosional, seperti kopi harian, belanja daring, hingga aktivitas rekreasi yang tidak terencana.
“Masalahnya sering kali bukan karena kekurangan uang, tetapi karena belum menjadi kebiasaan. Dengan fitur autodebet, dana akan otomatis dipotong dari rekening pada tanggal tertentu, sehingga memudahkan masyarakat berinvestasi tanpa harus memantau pasar setiap saat,” jelasnya.
Program Pintar Reksadana ini akan didukung oleh tujuh bank Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan tujuh manajer investasi terkurasi. OJK memastikan seluruh produk dalam program ini memenuhi aspek legalitas dan transparansi, serta dapat dipantau melalui fund factsheet bulanan dan kanal pengaduan resmi.













