Friday, June 5, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Motor Lebih Siap Gunakan BBM Etanol 10 Persen, Pemerintah Targetkan Berlaku 2027

Mistar.idKamis, 23 Oktober 2025 21.55
journalist-avatar-top
motor_lebih_siap_gunakan_bbm_etanol_10_persen_pemerintah_targetkan_berlaku_2027

Motor lebih siap pakai BBM etanol 10% (Foto: Antara)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Kendaraan roda dua ternyata lebih siap menggunakan BBM campuran etanol 10 persen (E10) dibandingkan mobil. Menurut para ahli, hal ini disebabkan oleh teknologi mesin motor yang lebih modern dan adaptif terhadap bahan bakar campuran.

Pakar Teknik Mesin Pertamina University, Profesor Iman Reksowardojo, menjelaskan bahwa sebagian besar motor keluaran baru di Indonesia sudah kompatibel dengan BBM beretanol karena telah menggunakan sistem 3-way catalyst untuk menekan emisi gas buang.

“Motor biasanya keluaran baru, jadi lebih tidak masalah lagi. Yang pasti tahun 2000 ke atas sudah aman. Motor lebih maju teknologinya dibanding mobil di Indonesia karena sudah pakai 3-way catalyst,” ujar Prof Iman di Kuningan, Jakarta Selatan.

Motor Lama Pun Bisa, Asal Ada Penyesuaian

Lebih lanjut, Prof Iman menuturkan bahwa motor keluaran lama juga bisa menyesuaikan dengan BBM E10, asalkan dilakukan penyetelan ulang sistem pengapian.

“Kalau pun ada masalah, cukup ganti gasket atau atur pengapiannya. Jadi sebenarnya ini bukan masalah teknis, tapi lebih ke kesiapan non-teknis saja,” jelasnya.

Sebaliknya, sebagian mobil di Indonesia dinilai masih perlu adaptasi karena belum semua dilengkapi teknologi pembakaran yang kompatibel dengan bahan bakar beretanol tinggi.

Pemerintah Siapkan Penerapan BBM E10 Tahun 2027

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah berencana mulai menerapkan penggunaan BBM campuran etanol 10 persen (E10) pada tahun 2027.

“Kita sedang desain penerapan E10, kemungkinan paling lama 2027 sudah bisa jalan,” kata Bahlil di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025).

Menurutnya, penerapan E10 masih menunggu kesiapan pabrik etanol dalam negeri. Pemerintah ingin memastikan pasokan etanol cukup sebelum kebijakan diberlakukan secara luas.

Bahlil menegaskan, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi kemandirian energi nasional untuk mengurangi impor bensin, yang saat ini mencapai 27 juta ton per tahun.

“E10 adalah bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi impor bensin karena kebutuhan dalam negeri masih sangat besar,” ujarnya.

Langkah Menuju Energi Lebih Hijau

Dengan semakin banyak kendaraan yang kompatibel terhadap E10, kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi bersih di sektor transportasi. Motor, sebagai moda transportasi paling banyak digunakan masyarakat Indonesia, berpotensi menjadi pionir dalam penggunaan BBM ramah lingkungan ini.

(hm17)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN