Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG dan Rupiah Tertekan, Emas dan Minyak Tembus Rekor: Anomali Pasar 2026

Mistar.idSenin, 30 Maret 2026 pukul 19.13 WIB
ihsg_dan_rupiah_tertekan_emas_dan_minyak_tembus_rekor_anomali_pasar_2026

Ilustrasi anomali pasar global. (foto:gemini/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pasar keuangan domestik mengawali pekan ini dengan tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak berada di zona merah, sementara komoditas emas dan minyak mentah justru menunjukkan pergerakan anomali dengan kenaikan harga yang signifikan, Senin (30/3/2026).

Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyoroti adanya pergeseran perilaku pasar yang tidak biasa, di mana emas tetap menguat meskipun harga energi melambung tinggi.

IHSG sempat mengalami kontraksi tajam hingga menyentuh level psikologis bawah di 6.945, sebelum akhirnya berhasil menipiskan kerugian dan ditutup melemah tipis 0,08 persen di level 7.091,67.

Pelemahan ini didorong oleh rontoknya saham-saham blue chip perbankan dan telekomunikasi, seperti BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI yang tetap terjebak di zona merah hingga penutupan. Di sektor telekomunikasi, TLKM turut memberikan tekanan pada indeks. Sejalan dengan bursa saham, mata uang rupiah ditutup melemah ke level 16.985 per dolar AS.

"Dengan posisi tersebut, rupiah berpotensi ditransaksikan di kisaran 17.000 per dolar AS pada harga offer di pasar," kata Gunawan. Penguatan USD Index ke level 100,2 menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda.

Kondisi paling menarik terjadi di pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia mencetak rekor tertinggi pasca-pecahnya perang Iran-AS dengan Israel, bertahan di kisaran 115 dolar AS per barel. Biasanya, lonjakan harga minyak akan menekan harga emas karena kekhawatiran inflasi, namun kali ini terjadi anomali.

Harga emas dunia pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026) menguat ke level 4.530 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,48 juta per gram. Sedangkan minyak mentah masih bertahan di level tinggi, yakni 115 dolar AS per barel.

"Tidak seperti biasanya di mana emas tertekan saat minyak naik. Hari ini terjadi anomali; sebutlah emas menguat di saat minyak mencetak rekor tertinggi. Ini membuktikan bahwa kenaikan harga minyak tidak selamanya menekan emas," ucap Gunawan.

Gunawan menganalisis bahwa secara fundamental, emas mendapatkan topangan sentimen positif yang sangat kuat. Selain faktor ketidakpastian geopolitik yang masif, langkah strategis dari otoritas moneter global menjadi kunci penguatan ini.

"Akumulasi emas oleh bank sentral di berbagai negara menjadi sentimen pendorong yang sangat mungkin menjaga tren kenaikan harga emas sejauh ini," ujarnya.

Investor kini cenderung mengamankan aset mereka ke dalam emas sebagai bentuk perlindungan nilai (safe haven) di tengah memanasnya suhu politik dunia dan potensi volatilitas mata uang global. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN