Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Emas Nyaris Rp3 Juta per Gram, Investor Dilema antara Panik dan Bahagia

Mistar.idSenin, 26 Januari 2026 pukul 16.13 WIB
harga_emas_nyaris_rp3_juta_per_gram_investor_dilema_antara_panik_dan_bahagia

Ilustrasi emas dengan harga yang terus meningkat (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Tren kenaikan harga emas seolah tanpa jeda terus mengejutkan publik. Di pasar domestik, harga logam mulia kian mendekati angka psikologis Rp3 juta per gram. Bahkan, sejumlah pedagang di lapangan terpantau telah mematok harga di atas level tersebut.

Kondisi ini memicu beragam reaksi dari para investor, mulai dari rasa syukur hingga kekhawatiran akan semakin sulitnya menambah simpanan emas.

Kepanikan sekaligus kebahagiaan dirasakan Bella, seorang ibu rumah tangga yang rutin mengoleksi emas. Ia mengaku berada dalam posisi dilematis melihat harga emas yang melonjak tajam dalam waktu singkat.

“Jujur, saya merasa sedikit panik tapi juga bahagia melihat harga emas hampir menyentuh Rp3 juta per gram. Paniknya karena semakin mahal harga emas, semakin sulit membelinya secara tunai. Biasanya sanggup beli 5 gram, tapi karena harganya naik drastis, terpaksa dikurangi jadi hanya 2 atau 3 gram saja,” kata Bella, Senin (26/1/2026).

Meski demikian, Bella mengakui lonjakan harga tersebut menjadi angin segar bagi portofolio investasinya.

“Saya sudah lama berinvestasi emas karena menurut saya ini adalah safe haven asset yang harganya relatif stabil dan menguntungkan dalam jangka panjang,” ucapnya.

Di sisi lain, bagi investor dengan dana terbatas, strategi investasi emas mulai bergeser. Fira, investor emas lainnya, mengaku mengubah caranya berinvestasi sejak harga emas menembus Rp2 juta per gram.

“Sejak harga emas tembus Rp2 juta per gram, saya lebih memilih investasi lewat tabungan emas di Pegadaian. Dengan gaji pas-pasan, agak sulit kalau dipaksakan beli tunai meski hanya 1 gram. Tapi saya tetap konsisten menabung emas lewat aplikasi, disesuaikan dengan kemampuan,” ujar Fira.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai tingginya harga emas saat ini tidak selalu menguntungkan bagi pedagang.

Menurutnya, lonjakan harga memunculkan risiko koreksi atau penurunan harga secara tiba-tiba, sehingga pedagang cenderung menahan stok atau mematok margin keuntungan yang tinggi.

“Bagi pedagang emas, kenaikan harga saat ini justru berisiko membuat mereka kekurangan pasokan. Mereka sangat mempertimbangkan potensi koreksi. Kalaupun berani membeli di harga mahal, margin akan dipatok tinggi untuk menekan risiko kerugian jika harga mendadak turun,” jelas Gunawan.

Menyikapi fenomena tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan investasi. Gunawan menambahkan, bagi pemula, pembelian emas batangan lebih disarankan dibanding perhiasan guna meminimalkan potongan biaya pembuatan.

“Selain itu, sangat penting memastikan dana yang digunakan merupakan excess fund atau dana yang tidak dibutuhkan dalam jangka pendek,” katanya.

Ia menegaskan, harga emas sangat dipengaruhi dinamika ekonomi dan politik global. Kondisi geopolitik yang masih bergejolak, termasuk potensi memburuknya tensi perang, menjadi katalis positif bagi kenaikan harga emas.

“Bagi masyarakat yang sudah memiliki simpanan emas, rekomendasi saat ini adalah hold atau tetap menyimpan aset tersebut. Selama tensi geoekonomi dan geopolitik global masih memanas, peluang emas mencetak rekor harga tertinggi baru masih terbuka,” pungkasnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN