6.5 C
New York
Tuesday, March 5, 2024

Harga Daging Sapi Mahal, Pelaku UMKM Kembali Dirugikan

Medan, MISTAR.ID

Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan belakangan ini memang mengalami kenaikan. Kalau dalam 2 tahun terakhir harga daging sapi itu berkisar Rp115 ribu hingga Rp125 ribu per Kg. Maka dalam sepekan terakhir harga daging sapi dijual dalam rentang Rp125 hingga Rp140 ribu per Kg.

Menurut pandangan Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin lantaran harga sapi indukan di Australia yang belakangan naik.

Kalau sebelumnya harga sapi indukan dari Australia itu dirupiah sekitar Rp52 ribu hingga Rp54 ribu per Kg sapi hidup. Saat ini harga sapi di Australia itu dijual dikisaran harga AUD 5.6 (5.6 Dolar Australia). Kalau ditambahkan dengan biaya freight dan asuransi yang sekitar $1.1 per kilo sapi hidup. Maka harga sapi bakalan itu sekitar Rp62 ribu hingga Rp64 ribu per Kg nya sampai di Medan.

Baca juga:Harga Daging Segar di Kota Medan Naik Rp10.000 per Kg

“Dari hasil pengamatan saya di lapangan. Harga jual sapi setelah digemukan di Indonesia itu harganya tidak terlalu jauh dengan harga sapi saat dibeli. Tetapi perusahaan penggemukan sapi mendapatkan keuntungan itu dari bobot sapi yang bertambah. Jadi kalau dibeli dari Australia bobotnya 150 kiloan, maka setelah digemukan bobotnya menjadi sekitar lebih dari 350 kilo,” kata Gunawan, Rabu (2/3/22).

Tentunya, sambung Gunawan ada penambahan biaya penggemukan lagi. Jadi kalau dihitung harga keekonomian daging sapi. Hanya daging saja tidak termasuk tulang, kepala, kaki, ekor, kulit, isi perut, darah, dan jeroan. Maka berdasarkan harga sapi yang mencapai Rp62 hingga Rp64 ribu per kilonya itu bisa menciptakan harga daging sapi sekitar Rp110 ribu hingga Rp120 ribuan per Kg.

“Jadi kalau harga daging sapi di tingkat pedagang pengecer saat ini dijual dalam rentang Rp125 ribu hingga Rp140 ribu itu wajar. Tetapi tentunya dikeluhkan oleh para konsumen. Pada dasarnya konsumsi daging sapi belum sepenuhnya pulih dibandingkan dengan masa sebelum pandemic. Sejauh ini, konsumsi daging sapi itu masih sekitar 50 persenan dari rata rata konsumsi sebelum pandemic,” jelasnya.

Nah daging sapi ini memang pada umumnya dikonsumsi masyarakat menengah atas. Jadi ada yang beranggapan jangan terlalu pusing dengan kenaikan harga tersbeut. Anggapan tersebut tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.

Baca juga:Pesta Nikah Meningkat Picu Kenaikan Harga Daging Ayam, IHK Siantar Alami Inflasi

“Kita juga harus memikirkan bagaimana nasib pedagang dan pelaku UMKM. Karena konsumsi daging sapi di Medan, sekitar 70% justru dikonsumsi oleh pedagang bakso atau pelaku UMKM lain.

Sekitar 30% lainnya di konsumsi oleh rumah tangga, restoran, rumah makan, hotel maupun acara hajatan masyarakat. Kalau pemerintah mau menyediakan daging sapi lebih terjangkau, alternatifnya adalah mencari sapi indukan yang lebih murah, atau impor daging sapi dari negara lain. Dalam konteks kenaikan harga daging sapi saat ini, saya melihat pelaku usaha atau UMKM yang banyak dirugikan,” bebernya.

Kalau keluhan dari konsumen akan tetap ada, tetapi Gunawan yakin ini biasanya dari kalangan masyarakat mampu. “Tetapi saat ini kita tengah mendekati Ramadhan, konsumsi daging sapi berpeluang meningkat di hampir semua lapisan masyarakat,” pungkasnya. (anita/hm06)

 

Related Articles

Latest Articles