Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harapan Damai AS–Iran Dongkrak Bursa, Minyak Turun 4% dari Level $100

Mistar.idKamis, 26 Maret 2026 pukul 14.39 WIB
harapan_damai_asiran_dongkrak_bursa_minyak_turun_4_dari_level_100

Ilustrasi, Minyak Turun 4% dari Level $100. (foto:dokumen/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Harga minyak dunia melemah tajam dan pasar saham global kompak menguat setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan kerangka kerja perdamaian 15 poin kepada Iran. Sentimen positif ini memicu harapan gencatan senjata di Timur Tengah dan meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Minyak mentah Brent turun sekitar 4% pada dini hari Rabu dan sempat merosot di bawah level US$100 per barel. Pelemahan terjadi seiring para pelaku pasar merespons prospek meredanya tekanan suplai akibat konflik di kawasan tersebut.

Sentimen optimistis juga didorong laporan bahwa Iran mengizinkan kapal-kapal “non-musuh” melintas dengan aman di Selat Hormuz—jalur pelayaran vital yang menjadi nadi distribusi energi dunia.

Bursa Asia hingga Wall Street Menguat

Penguatan harga saham terjadi hampir merata di berbagai kawasan. Di Asia, indeks Nikkei Jepang ditutup melonjak 2,9%, sementara Hang Seng Hong Kong naik sedikit di atas 1%.

Bursa Eropa turut mencatatkan penguatan. Indeks FTSE 100 London naik 1,4%, Dax Jerman menguat 1,3%, dan Cac 40 Prancis juga bertambah sekitar 1,3%.

Di Amerika Serikat, reli berlanjut dengan Nasdaq naik 0,7%, sementara S&P 500 dan Dow Jones masing-masing menguat sekitar 0,6%.

Namun, penguatan tersebut masih dibayangi ketidakpastian. Harga minyak kembali berfluktuasi di sekitar US$100 per barel setelah Teheran membantah adanya pembicaraan resmi sejak awal perang.

Amelie Derambure, manajer multi-aset senior di Amundi, menilai suasana pasar saat ini cenderung positif. “Pasar memperdagangkan gagasan bahwa pembicaraan damai atau gencatan senjata mungkin akan segera terjadi,” ujarnya, dikutip dari The Guardian, Kamis (26/3/2026).

Selat Hormuz: Jalur 20% Pasokan Energi Dunia

Penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya hampir menghentikan pengiriman minyak dan gas global. Jalur sempit ini dilalui sekitar 20% pasokan energi dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut disebut sebagai salah satu krisis pasokan terbesar dalam sejarah modern oleh Badan Energi Internasional.

Data terbaru dari S&P Global menunjukkan hanya empat kapal yang tercatat melintas pada Selasa. Angka itu kurang dari 3% dari rata-rata historis 138 kapal per hari sebelum perang pecah.

Lebih dari 30 negara, termasuk Uni Emirat Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, dan Australia, telah menandatangani pernyataan bersama untuk melakukan “upaya yang tepat” guna melindungi jalur tersebut.

Iran kemudian memberi sinyal pelonggaran dengan mengizinkan kapal “non-musuh” melintas—yakni kapal yang tidak mendukung tindakan agresi terhadap Iran.

Ancaman Pupuk dan Ketahanan Pangan Global

Selain energi, Selat Hormuz juga menjadi jalur strategis bagi distribusi pupuk. Sekitar sepertiga pupuk dunia melewati perairan tersebut.

Wakil Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jean-Marie Paugam, memperingatkan bahwa gangguan suplai pupuk dapat berdampak serius terhadap ketahanan pangan global.

“Jika tidak ada lagi pupuk, akan ada dampak pada kuantitas dan harga. Efeknya akan semakin parah pada tahun berikutnya: panen menyusut dan harga naik,” ujarnya.

Emas Turun 13% dari Rekor US$5.000

Volatilitas pasar global juga memengaruhi harga emas. Logam mulia yang biasanya menjadi aset lindung nilai sempat mencetak rekor historis di atas US$5.000 per ons pada Januari lalu.

Namun sejak konflik Iran pecah, harga emas justru terkoreksi sekitar 13% menjadi kisaran US$4.550 per ons. Pergerakan ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas emas sebagai “safe haven” dalam dinamika krisis saat ini.

Ancaman Harga Minyak US$150 dan Resesi Global

Secara terpisah, CEO BlackRock Larry Fink memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$150 per barel.

BlackRock mengelola aset senilai US$14 triliun (£10,4 triliun). Menurut Fink, jika Iran tetap menjadi ancaman dan harga energi bertahan tinggi, implikasinya akan sangat besar terhadap ekonomi global, termasuk risiko resesi.

Pasar Masih Rentan

Meski euforia jangka pendek mengangkat bursa saham dan menekan harga minyak, ketidakpastian tetap membayangi. Selat Hormuz masih menjadi titik krusial, dan setiap perkembangan diplomatik dapat dengan cepat membalikkan arah pasar.

Untuk saat ini, investor global menimbang harapan damai dengan risiko eskalasi lanjutan—dua kekuatan yang terus mendorong volatilitas tinggi di pasar keuangan dunia.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN