Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Emas Dunia Dekati Level Psikologis 4.600 Dolar AS, Rupiah Terseok di Ambang Rp17.000

Mistar.idSelasa, 31 Maret 2026 pukul 11.43 WIB
emas_dunia_dekati_level_psikologis_4600_dolar_as_rupiah_terseok_di_ambang_rp17000

Ilustrasi emas. (Foto: Reuters)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Pasar keuangan global dan domestik terus dibayangi ketidakpastian tinggi akibat memanasnya suhu geopolitik di Timur Tengah. Di tengah harga minyak yang mulai stabil, harga emas dunia justru melambung tinggi, sementara nilai tukar rupiah kini berada di titik kritis, Selasa (31/3/2026).

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyebutkan pelaku pasar saat ini tengah bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik jangka pendek antara Amerika Serikat dan Iran.

Harga emas dunia menunjukkan penguatan luar biasa dengan mendekati level psikologis baru. Pada sesi perdagangan pagi ini, emas ditransaksikan menguat di kisaran 4.596 dolar AS per ons troy. Jika dikonversi ke mata uang domestik, harga emas global ini sudah setara dengan Rp2,52 juta per gram.

Kondisi kontras dialami mata uang Garuda. Rupiah pagi ini ditransaksikan melemah ke level 16.992 per dolar AS.

"Dengan posisi saat ini, rupiah sangat berpeluang ditransaksikan di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Kinerja rupiah diprediksi akan bertahan di level psikologis tersebut untuk sementara waktu sembari menanti kabar ekonomi selanjutnya yang bisa mengubah arah pergerakan," kata Gunawan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat di level 7.122, namun tak lama kemudian mulai tergelincir ke zona merah meski dengan pelemahan terbatas. Pergerakan IHSG saat ini dipengaruhi oleh dua sentimen yang saling bertolak belakang.

Rilis data manufaktur China yang ekspansif di level 50,4 memberikan angin segar bagi bursa saham di Asia, sementara rencana serangan darat AS ke Iran menjadi isu besar yang menghantui pasar.

Meskipun harga minyak mentah jenis Brent terpantau stabil di kisaran 105 dolar AS per barel, pasar belum sepenuhnya tenang. Fokus utama pelaku pasar bukan lagi sekadar fluktuasi harga komoditas harian, melainkan potensi konflik terbuka yang lebih masif.

"Pelaku pasar masih terpaku dengan situasi di Timur Tengah. Rencana serangan darat AS ke Iran menjadi isu utama yang akan menggerakkan pasar selanjutnya. Secara keseluruhan, pasar sangat mengkhawatirkan adanya potensi peningkatan eskalasi konflik dalam jangka pendek," ucap Gunawan.

Kondisi ini membuat aset aman (safe haven) seperti emas terus diburu, sementara aset berisiko di pasar berkembang (emerging markets) seperti rupiah dan saham cenderung ditinggalkan oleh investor global. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN